Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRPRKP) Kota Mojokerto Endah Supriyani mengatakan, pengangkatan girder akan dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan konstruksi. Rencananya, balok penyangga yang berada di bawah permukaan air Sungai Ngotok itu akan dilakukan tahun depan. ’’Kalau secara konstruksi memang harus diangkat, kalau tidak, bisa berpotensi terjadi scouring atau menggerus fondasi jembatan,’’ terangnya.
Sebab, papar Endah, posisi girder yang tenggelam selama 6 tahun tersebut kini telah tertutup sedimen. Kondisi tersebut membuat aliran air yang bermuara ke Sungai Brantas itu terhalang.
Terlebih, balok penyangga yang ambruk saat pelaksanaan proyek pembangunan jembatan Rejoto terdiri dari 6 bentang. Sehingga berisiko berdampak pada keamanan dari akses penghubung Kelurahan Pulorejo dan Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. ’’Karena arus sungai terhalang kan bisa mengenai konstruksi di sampingnya,’’ imbuh dia.
Saat ini, imbuh dia, masih dilakukan finalisasi terkait metode pelaksanaan pengangkatan girder. Mengingat, teknik evakuasi gelagar beton dengan total panjang berkisar 50 meter dari dalam sungai itu juga berkaitan dengan kebutuhan anggaran. ’’Tinggal mencari metode yang paling memungkinkan, untuk rencana pengangkatan di tahun depan,’’ paparnya.
Sebagaimana diketahui, pelaksanaan proyek Jembatan Rejoto pada 2016 lalu sempat terjadi insiden ambruknya girder. Sebuah balok penyangga jembatan terjatuh dan menimpa lima bentang girder lainnya hingga menyebabkan material beton cor itu tenggelam di Sungai Ngotok. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah