DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Praktik prostitusi terselubung diduga terjadi di Desa Jatirowo, Kecamatan Dawarblandong. Jasa layanan seksual disebut banyak dijajakan di warung kopi tepi jalan. Satpol PP Kabupaten Mojokerto mengaku bakal segera melakukan penelusuran.
Keberadaan warung remang-remang itu belakangan menjadi perhatian sejumah kalangan masyarakat. Di warung tepi jalan raya yang diapit area persawahan tersebut sering tampak perempuan-perempuan berpenampilan seronok. ’’Hampir 90 persen kami yakin itu memang warung esek-esek,’’ kata seorang warga.
Menurut dia, bangunan warung semi permanen bercat hijau itu dulunya milik warga Desa Jatirowo. Namun, setelahnya disewa oleh orang luar desa. Beberapa minggu terakhir, tempat tersebut mulai banyak dijumpai aktivitas yang menjurus ke layanan seksual. ’’Sepertinya hanya untuk transaksi, mainnya di tempat lain,’’ imbuhnya.
Dia menyebut, kemunculan warung remang-remang ini seiring ditutupnya lokasi serupa di kawasan Janti, Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, sekitar tiga bulan lalu. Para pekerja seks komersial (PSK) yang ditengarai mencari tempat baru untuk melanjutkan praktiknya.
Salah satunya di warung tepi jalan Desa Jatirowo yang berbatasan dengan Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong ini. ’’Selain warung esek-esek. Di deretan situ juga ada tempat karaoke dan ada layanan seksualnya juga, tapi masuknya sudah Desa Pulorejo,’’ tutur Kurniawan, warga lain.
Menanggapi keberadaan warung remang-remang ini, Satpol PP Kabupaten Mojokerto mengaku bakal melakukan penelusuran. Langkah itu untuk memastikan dugaan praktik prostitusi yang dicurigai warga. ’’Ke depan Insyaallah akan kami agendakan untuk penyisiran,’’ ujar Kabid Penegakan Perundang-Undangan Daerah Satpol PP Kabupaten Mojokerto Zainul Hasan, kemarin (14/9).
Pihaknya menyebut, penelusuran juga akan dilakukan secara menyeluruh di wilayah utara Sungai Brantas. Sejauh ini, berdasarkan pemantauannya, lokasi warung esek-esek terdapat di sejumalah tempat. Seperti beberapa tempat di Kecamatan Jetis dan Kecamatan Dawarblandong. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah