Serangan ribuan serangga tersebut semakin meresahkan warga. Sebab, persebarannya kian meluas. Bukan hanya pekarangan warga yang jadi sasaran. Ulat bulu sudah masuk ke dalam rumah warga. Bahkan sudah merangsek ke kamar tidur, dapur, hingga kamar mandi. ’’Jadi kita ini seolah sudah mandi bareng ulat. Sekarang sudah ada sekitar 10 rumah warga yang terserang ulat bulu. Kalau dibiarkan terus ya bisa sampai satu RT kena ulat semua,’’ ujar Agus Hervin, warga setempat.
Jumlah rumah warga yang jadi sasaran ulat bulu itu terus bertambah. Sebelumnya tidak lebih dari lima rumah warga yang diserang . Itu seiring kekhawatiran warga yang makin meningkat akan dampak kesehatan yang ditimbulkan. Sebab, ulat bulu tak hanya merusak tanaman milik warga. ’’Sudah banyak yang kena gatal-gatal. Mulai dari anak-anak sampai dewasa. Ya dilaburi minyak kayu putih kalau gatal,’’ terangnya.
Menurutnya, ulat bulu kerap keluar saat cuaca tengah terik atau siang hari. Untuk mengantisipasi persebaran ulat, warga punya cara tersendiri. Salah satunya dengan menyemprotkan cairan sabun cuci piring, garam, dan pemutih pakaian. ’’Ya lumayan berkurang setelah disemproti. Tapi nggak lama ya balik lagi,’’ ungkapnya. Tak pelak, serangan ulat bulu yang disinyalir berasal dari dua pohon waru di pekarangan milik Sholeh itu dilaporkan ke BPBD Kabupaten Mojokerto untuk kali kedua guna meminimalisir persebaran.
Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat mengatakan, petugas Damkar BPBD Kabupaten Mojokerto telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penyemprotan kemarin siang. Penanganan tersebut merupakan kali kedua setelah Sabtu (13/8) lalu. ’’Petugas sudah ke lokasi untuk melakukan penyemprotan lagi. Tadi habis sekitar 50 liter cairan campuran disinfektan dan ramuan khusus anti serangga untuk disemprotkan,’’ ujarnya.
Disinggung fenomena tersebut sebagai wabah, Djoko belum bisa berkomentar banyak. Sebab, cakupan wilayah serangan ulat bulu tersebut yang relatif lokal. Namun, pihaknya mengimbau agar warga membakar sejumlah tanaman di pekarangan yang disinyalir sebagai sarang atau asal ulat bulu tersebut. Sehingga serangan ulat tidak kembali terulang dan semakin meluas. ’’Karena kalau pohon atau sarangnya dibakar, kemungkinan ulat bulu sudah tidak bisa kembali lagi,’’ ungkapnya. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah