Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Transisi Pendidikan di Mojokerto, Ijazah Terbit Usai Kemerdekaan

Fendy Hermansyah • Kamis, 18 Agustus 2022 | 12:55 WIB
JEJAK PENDIDIKAN: SMPN 1 Kota Mojokerto yang pernah menjadi lembaga MULO atau sekolah tingkat lanjutan pertama satu-satunya di masa pemerintahan kolonial.
JEJAK PENDIDIKAN: SMPN 1 Kota Mojokerto yang pernah menjadi lembaga MULO atau sekolah tingkat lanjutan pertama satu-satunya di masa pemerintahan kolonial.
SEMENTARA itu, sistem pendidikan yang berlaku di lembaga sekolah saat ini merupakan buah dari keberhasilan diraihnya kemerdekaan RI. Pasca diproklamirkan Seokarno pada 17 Agustus 1945, Ki Hajar Dewantara yang ditunjuk sebagai Menteri Pengajaran Indonesia pertama langsung membangun fondasi pendidikan tanah air.

Ayuhanafiq menuturkan, transisi pendidikan mengalami perubahan cukup signifikan di era kemerdekaan. Setelah Jepang angkat kaki, lembaga pendidikan formal di Mojokerto akhirnya dapat menerbitan ijazah untuk pertama kali tanpa embel-embel penjajah.

Salah satunya adalah ijazah yang dikeluarkan Sekolah Rakyat (SR) Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto yang diterbitkan tahun 1946 atau setahun setelah proklamasi kemerdekaan. ”Ijazah menjadi bukti autentik sekolah di Mojokerto tetap berjalan di awal kemerdekaan,” terangnya.

Meskipun, kata dia, sektor pendidikan belum sepenuhnya berjalan ideal pada awal kemerdekaan lalu. Sebab, di masa revolusi itu, masyarakat Mojokerto masih berada di bawah bayang-bayang perang seiring kedatanagan pasukan sekutu yang ditunggangi pasukan Belanda pada September 1945.

Karenanya, imbuh Yuhan, dapat dimaklumi bahwa dokumen sebagai tanda tamat belajar dari sekolah tingkat dasar dibuat dengan bentuk fisik yang sederhana. Yakni diterbitkan dengan lembaran kertas dengan dibubuhkan tandatangan dari kepala sekolah, kepala desa, dan wedono. ”Karena ijazah dibuat dalam kondisi darurat,” ujarnya.

Kendati demikian, ijazah SR dilengkapi dengan stempel dari pemerintah Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, serta Kawedanan Mojosari. Meski dokumen belum terdapat lambang negara layaknya ijazah keluaran kolonial, setidaknya legalisasi dari pejabat tersebut sudah mewakili unsur pemerintahan yang baru setahun memproklamasikan kemerdekaan.

”Dengan diterbitkan ijazah pertama setelah kemerdekaan itu menunjukkan bahwa pendidikan di Mojokerto masih tetap berjalan meski situasi sedang terjadi revolusi,” pungkasnya. (ram/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Sekolah Soekarno Kecil #kota onde-onde #citayam fashion week #Mojopahit #smpn 1 kota mojokerto #citayam #trawas #pacet #sekolah ongko loro #masa kecil soekarno #sejarah transisi pendidikan di mojokerto #Soekarno di Mojokerto #wisata mojokerto #Kota Mojokerto #mojokerto #trowulan #onde-onde