Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRPRKP) Kota Mojokerto Endah Supriyani mengungkapkan, rencana pengangkatan girder ambruk di Jembatan Rejoto akan dilakukan kajian lebih dulu. Menurutnya, studi kelayakan itu bertujuan untuk mengkaji baik secara struktur, aliran air, hingga keamanan. ”Termasuk secara anggaran juga,” terangnya.
Selain itu, pengkajian juga dilakukan guna mengetahui posisi enam bentang girder yang jatuh di aliran Sungai Ngotok saat pelaksanaan proyek pembangunan Jembatan Rejoto enam tahun silam. Terlebih, balok penyangga yang ambruk dalam keadaan utuh alias sudah tersambung berupa bentangan beton.
Karenanya, sebut Endah, dalam studi kelayakan nanti juga dilakukan analisa metode pengangkatan girder. Sehingga, perlu perlu dilakukan kajian terlebih dulu sebelum melakukan eksekusi dengan mengangkat girder dari dalam Sungai Ngotok.
Di samping mengetahui posisi balok penyangga apakah masih di tempat semula sejak jatuh November 2016 lalu, atau sudah bergeser karena aliran air sungai yang bermuara ke Sungai Brantas tersebut. ”Mungkin dengan menyelam atau pakai tekonologi sonar untuk mengetahui posisinya, apakah saling tumpang tindih, itu yang perlu dilihat nanti,” sebutnya.
Endah menambahkan, pertimbangan pengangkatan girder jatuh dari Sungai Ngotok karena berpotensi bisa mengganggu keamanan konstruksi Jembatan Rejoto saat ini. Sebab, bentangan beton dikhawatirkan bergeser saat aliran sungai deras.
Di sisi lain, enam balok penyangga jembatan yang masing-masing diperkirakan sepanjang 50 meter itu juga bisa menghambat aliran Sungai Ngotok menuju ke Sungai Brantas. ”Pertimbangan paling utama pada keselamatan konstruksi jembatan yang sekarang. Karena kalau ada air besar khawatirnya bergeser dan kena konstruksinya sekarang,” tandasnya.
Endah mengaku belum bisa memastikan kapan girder jembatan ambruk itu akan dieksekusi. Sebab, keputusan tersebut akan didasarkan dari hasil studi kelayakan dan anilisis metode pengangkatan.
Saat ini, pemilihan konsultan untuk studi kelayakan pengangatan girder jatuh Jembatan Rejoto masih proses lelang. ”Tahun ini kajian dulu. Nanti keputusannya bagaimana nunggu studi kelayakan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, pelaksanaan proyek Jembatan Rejoto pada 2016 lalu sempat terjadi insiden ambruknya girder. Ambruknya balok penyangga itu tepatnya terjadi saat proses pemasangan girder keenam pada bentang tengah jembatan. Nahas, gelagar beton terjatuh dan menimpa lima girder lainnya yang kemudian ambruk ke Sungai Ngotok. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah