Kepala SMP Islam Plus Al-Azhar Kota Mojokerto Siti Khabibah mengungkapkan, penanaman budi pekerti dan pengenalan lingkungan sekolah menjadi materi pembuka dalam rangkaian pelaksanaan MPLS. Selain dikenalkan lingkungan pendidikan dan pondok pesantren, sebanyak 33 siswa baru juga diberikan pengatahuan tentang akhlak sebagai santri. ”Anak-anak kami tanamkan budi pekerti atau adab seorang santri terhadap gurunya, kepada sesama santri, maupun pada lingkungan sekitarnya,” terangnya.
Selain itu, peserta didik juga mendapatkan wawasan tentang kepesantrenan. Mengingat, SMP Islam Plus Al-Azhar menerapkan pembelajaran dengan sistem kurikulum terpadu. Di samping mengimplementasikan kurikulum nasional, juga diterapkan kurikulum madrasah diniyah (madin), serta tahfiz dan tahsin Alquran. ”Peserta didik juga kami kenalkan dengan kebiasaan-kebiasaan santri di pondok pesantren itu seperti apa,” tandasnya.
Tak hanya dilakukan internal sekolah, SMP Islam Plus Al-Azhar juga menggandeng sejumlah instansi untuk mengisi kegiatan MPLS yang digelar selama 7 hari tersebut. Di antaranya bekerja sama dengan Kodim 0815 Mojokerto untuk berbagi ilmu tentang kedisiplinan dan peraturan baris berbaris (PBB).
Guna mencegah siswa agar tidak terjerumus pada penyelahugunaan narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Mojokerto juga membekali santri sejak dini tentang bahaya napza. Khabibah menambahkan, MPLS tahun ini juga dijadikan sebagai momentum untuk mengenalkan budaya kepada siswa.
Karena itu, SMP Islam Plus Al-Azhar juga mengajak Gubug Wayang Mojokerto untuk mengenalkan keberagaman budaya dengan materi kebhinekaan. Tak berhenti di situ, pengenalan kearifan lokal budaya juga akan diterapkan di tahun ajaran 2022/2023 ini. ”Insya Allah Ke depan kami akan MoU dengan Gubug Wayang untuk memberi edukasi anak-anak tentang perwayangan,” tandas Khabibah. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah