PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Risiko kecelakaan akibat rem blong di jalan penghubung Pacet-Cangar masih tinggi. Kemarin (31/7), empat motor mengalami rem blong hanya dalam waktu dua jam. Seluruh kejadian itu mengakibatkan enam orang terluka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Kelompok relawan Welirang Community Rescue mencatat, kasus kecelakaan pada akhir pekan kali ini cukup tinggi. Berdasarkan penanganan tim di lapangan, dilaporkan terjadi empat kejadian kecelakaan. Seluruh kejadian mengakibatkan tiga orang luka berat dan tiga orang luka ringan. ”Semuanya rem blong,” kata Made Zakarian, salah satu relawan.
Menurutnya, seluruh kecelakaan rem blong itu dialami kendaraan motor bertransmisi matic. Kejadian diawali rem blong dua wisatawan berboncengan di rest area Sendi, Pacet, sekitar pukul 14.00. Satu korban dilaporkan mengalami lecet sedangkan satunya patah tulang. Luka itu didapat akibat benturan keras.
Selang 15 menit kemudian, kecelakaan rem blong kembali terjadi. Kali ini juga dialami pengendara motor berboncengan. Keduanya masuk jalur penyelamatan Gotean setelah motor yang dikendarainya melaju kencang di turunan. Kejadian tersebut mengakibatkan satu korban luka ringan dan satunya luka berat.
Sekitar pukul 15.00, seorang pemotor kembali mengalami rem blong di rest area Sendi. ”Korban mengalami luka berat patah kaki,” ujarnya. Tak berhenti di situ, sekitar pukul 15.45, kejadian rem blong kembali terjadi di lokasi yang sama. Kejadian ini mengakibatkan korban luka lecet di kaki dan tangan.
Made menjelaskan, seluruh korban dievakuasi ke RS Sumberglagah, Pacet untuk penanganan medis. Menurut dia, pengendara motor yang mengalami rem blong merupakan wisatawan asal luar Mojokerto. ”Luar kota semua, Jombang dan Lamongan,” sebutnya.
Kecelakaan rem blong di jalan Pacet-Cangar tak terlepas dari medan yang ekstrem. Jalan yang naik dan turun dengan kondisi curam kerap membuat sistem pengereman motor bermasalah. Kejadian rem blong di jalur wisatawa ini kerap menimpa motor jenis matic. ”Dan, juga korbannya memang paling sering wisatawan. Mungkin karena kurang mengenali medan,” tandas dia. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah