Kerusakan jalan poros desa penghubung Purwojati-Kutogirang kian parah sejak sebulan terakhir. Mulai dari jalan bergelombang hingga berlubang. Diameter lubang yang tersebar di penjuru jalan pun bervariatif. Mulai dari sekitar 50 sentimeter (cm) hingga 1,5 meter dengan kedalaman sekitar 10 – 15 cm. Sehingga, kerusakan jalan itu dinilai membahayakan pengguna jalan.
”Ini barusan ada dua pemotor dari Sidoarjo yang jatuh, katanya mau ke Jolotundo. Cuma lecet-lecet saja. Untungnya waktu itu nggak ada truk galian yang lewat. Ya bisa ketabrak,” ujar Tamiso, warga setempat, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, kemarin sore.
Menurutnya, banyak pemotor yang terpeleset hingga jatuh akibat kerikil dan lubang jalan. Terlebih, sejak rusak ruas jalan menjadi berdebu. Dinilai kian meresahkan, warga memasangi salah satu lubang jalan dengan pohon pisang. Sekaligus sebagai tanda agar pengguna jalan berhati-hati saat melintas di lokasi. ”Mungkin ini sekitar 400 meter yang rusak. Ya gara-gara truk galian itu. Duduk di sini semenit saja sudah ada 10 truk yang lewat,” ungkapnya.
Meski jalanan kerap menjadi aliran air saat hujan, menurutnya itu tidak terlalu berpengaruh atas sejumlah kerusakan yang ada. Warga mengeluhkan masifnya lalu-lalang kendaraan galian yang melintas di jalan aspal yang dibangun sekitar 10 tahun lalu itu. Terlebih, aktivitas galian C tersebut bukan di Desa Kutogirang. Melainkan di Desa Srigading. ”Kabarnya di sana sekarang galiannya ada tiga. Mulai ramai kegiatan tambang pasir ini sekitar setahun terakhir. Sebelumnya gak seramai ini,” ucapnya.
Disinggung soal kompensasi perbaikan jalan dari pengelola galian, menurutnya sejauh ini masih nihil. Meski, beberapa kali warga mencoba menyampaikan keresahannya itu ke pihak pengelola galian, namun tetap tidak membuahkan hasil. ”Belum pernah ada yang bantu perbaiki jalan. Sejak ini dipasang empat hari yang lalu ya gak ada respons. Ya supaya galian-galian ini peduli lah sama lingkungan sekitar, jangan cuma ngeruk tok,” tandas pria 74 tahun itu.
Sementara itu, Kepala DPUPR Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan, pihaknya sudah mendata ruas jalan rusak tersebut. Pihaknya tidak menampik jika kerusakan jalan tersebut merupakan imbas aktivitas pertambangan di Desa Srigading. ”Itu jalan poros ruas Purwojati – Trawas, rusak karena dampak galian di Desa Srigading,” sebutnya saat dikonfirmasi terpisah.
Menurutnya, ruas jalan itu belum masuk dalam daftar rencana perawatan jalan yang akan diajukan di Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (PAPBD) Oktober nanti. Sebab, ruas jalan tersebut masih dilewati truk-truk bermuatan hasil tambang pasir dan batu (sirtu). ”Ya percuma selagi truk galian C masih lalu-lalang di situ. Diaspal juga sebentar saja rusak kalau menanggung truk dengan muatan berlebih,” ungkapnya.
Ia mendesak, pihak berwenang untuk merampungkan persoalan dampak yang ditimbulkan aktivitas pertambangan itu. Sehingga, pihaknya bisa segera melakukan perawatan pada salah satu jalur wisata yang rusak tersebut. ”Akar masalahnya dulu yang diselesaikan,tapi itu bukan wewenang DPUPR ya. Salah satu solusinya, warga bisa minta kompensasi ke pihak galian untuk menambal jalan,” tandas mantan Kabag Administrasi Pembangunan Setdakab Mojokerto itu.
Sebelumnya, warga Dusun Manukan, Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, juga melakukan aksi serupa. Tujuannya sama, agar jalan rusak segera diperbaiki lantaran dinilai menimbulkan kerugian tersendiri bagi warga setempat. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah