KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Mojokerto memastikan pemangkasan rombongan kelas (rombel) di jenjang SMPN tahun ini, tak berdampak pada pemenuhan jam mengajar guru. Selain itu, ruang kelas yang kosong juga bakal dimanfaatkan sebagai tambahan fasilitas sekolah.
Kepala Dinas P dan K Kota Mojokerto Amin Wachid menegaskan, pengurangan jumlah rombel pada pendaftaran peserta didik baru (PPDB) jenjang SMPN tahun ini telah dilakukan dengan penghitungan secara matang. Di antaranya dilakukan berdasarkan jumlah peserta didik dengan tenaga pendidik di sekolah. ”Jadi, tidak ada guru yang jam mengajarnya berkurang atau bahkan tidak dapat jam mengajar,” terangnya.
Karena itu, pengurangan hanya dilakukan di dua sekolah yang dinilai jumlah rombelnya terlalu gemuk. Yakni di SMPN 1 Kota Mojokerto yang sebelumnya membuka 10 rombel, kini dikurangi menjadi 9 rombel. Dan di SMPN 2 Kota Mojokerto yang kini hanya membuka 7 rombel atau berkurang satu rombel dari tahun sebelumnya.
Dengan demikian, PPDB jenjang SMPN hanya membuka 64 rombel dengan daya tampung 2.048 siswa di tahun ajaran 2023-2023. Meski dua kelas dipastikan tidak terisi, namun Amin menyebut dua gedung tidak dibiarkan lowong.
Menurutnya, masing-masing lembaga diminta untuk tetap dimanfaatkan untuk menambah fasilitas atau membuat sarana baru yang belum dimiliki sekolah. ”Karena ruang kelas kan fleksibel bisa dipakai untuk ruang pramuka, ruang UKS, atau menambah ruang laboratorium sekolah,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Kota Mojokerto Suwar menambahkan, pengurangan rombel di lembaganya diharapkan bisa membuat pelayanan lebih ideal. Sebab, kondisi saat ini jumlah kelas di jenjang kelas IX terdapat 11 rombel. Sedangkan di kelas VIII dan VII masing-masing 10 rombel. ”Jadi, idealnya seluruh kebutuhan ruang di masing-masing tingkat kelas itu 9 rombel semua,” tandasnya.
Di sisi lain, dengan berkurangnya satu rombel tahun ini, seluruh tenaga pendidik juga masih tetap bisa memenuhi kewajiban mengajar minimal 24 jam pelajaran per minggu. Karena, di jenjang SMPN, guru dapat mengajar siswa di kelas VII hingga IX.
Terkait ruang kelas yang tak terisi siswa tahun ini, Suwar berencana untuk memanfaatkannya sebagai ruang pameran yang sebelumnya belum dimiliki SMPN 1. ”Jadi, satu ruang itu kita manfaatkan semacam galeri yang berisi karya siswa,” imbuhnya. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah