Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bertahan demi Keluarga

Fendy Hermansyah • Minggu, 6 Februari 2022 | 15:00 WIB
bertahan-demi-keluarga
bertahan-demi-keluarga

DI TENGAH kemajuan transportasi, angkutan kota alias lin menjadi transportasi angkutan umum yang terus mencoba bertahan. Dihapuskannya sistem trayek menjadikan kalangan sopir sedikit bernafas lega. Meski begitu, mereka harus kreatif menjaring penumpang di titik-titik potensial.


Dulu, angkot menjadi salah satu angkutan primadona yang banyak digunakan masyarakat. Kini, nasibnya seperti hidup segan mati tak mau. Masyarakat sudah mulai beralih menggunakan kendaraan pribadi ataupun menggunakan moda transportasi online.


Seperti yang dirasakan salah satu sopir yang mangkal di Terminal Kertajaya, Nanang. Sopir angkutan pedesaan (angkudes) jurusan Puri-Dlanggu-Gondang-Pacet ini mengeluh sepinya penumpang dialaminya sejak 2018 lalu. Tapi, karena ingin menghidupi keluarga, dirinya terus bertahan menjadi sopir angkot.


Dia menilai pekerjaan sopir angkutan yang bisa dikerjakannya saat memasuki usia 56 tahun. ’’Umur sudah segini, kalau ke pabrik juga sudah ndak bisa. Ya, otomatis jadi sopir saja meski kalau pulang juga penghasilannya tidak tentu,’’ ujar bapak dua anak ini.


Menjadi sopir lin jurusan Pacet sudah dijalani Nanang sejak tahun 1990-an. Sebelum ada pandemi Covid-19 dan tergerus akibat kemajuan zaman, penghasilan yang diperolehnya berkisar Rp 70 ribu hingga Rp Rp 85 ribu per hari. Namun, sejak tahun 2018 lalu, penghasilan yang diperolehnya hanya berkisar Rp 30 ribu. ’’Itu kalau memang lagi ramai-ramainya. Kalau telanjur sepi, ya Rp 30 ribu nggak ngangkat,’’ ulas warga Desa Karangkuten, Kecamatan Gondang ini.


Di tengah sepinya penumpang, Nanang biasanya ngetem sejak pukul 07.00 hingga pukul 17.00 saja. Sekali ngetem, membutuhkan waktu kisaran dua jam agar kursi penumpangnya terisi meski tidak penuh. Maksimal ada lima penumpang yang ia angkut. ’’Lima penumpang aja itu sudah bersyukur. Hari libur atau hari biasa ya sama aja sepinya,’’ sebutnya.


Hal yang sama juga dirasakan Sutiyo, salah satu sopir angkutan umum lin G jurusan Kota Mojokerto. Dirinya mengaku tetap setia mengaspal meski hanya bawa satu penumpang. Pasalnya, angkot berwana kuning yang ia kemudikan sejak 1986 lalu merupakan aset satu-satunya yang ia miliki. ’’Selain karena memang punyanya angkot ini thok, terus umur saya juga sudah tua. Kalau nggak narik, mau kerja apa,’’ ujar pria 60 tahun ini.


Ia menceritakan, sepinya penumpang kian terasa semenjak adanya transportasi berbasis daring. Tak jarang, dalam sehari dia sama sekali tak mendapat penumpang.


Sutiyo mengaku kini tak hanya mengantar penumpang sesuai trayek. Bahkan, dia juga mengantar lintas jurusan. ’’Kadang kalau dapat penumpang yang arah Surodinawan, ya saya juga nyari penumpang yang jurusan ke daerah Brangkal atau Trowulan. Kalau nggak gitu, pulang nggak dapat duit,’’ beber warga Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar ini.


Sementara itu, Plt Kepala UPT LLAJ Mojokerto Dishub Jatim Yoyok Kristyowahono tak memungkiri penyebab mati surinya angkutan umum saat ini dipicu karena tergerus moda transportasi online. ’’Tapi sudah ada kesepakatan antar yang supir online dan supir angkot berbagi wilayah dan rute pengantarannya, agar tetap fair sama-sama dapat penumpang,’’ katanya.


Yoyok mengungkapkan aturan trayek untuk angkot jurusan kota sudah tak berlaku lagi. Sebab, jika diterapkan ini akan berimbas pada pendapatan para sopir angkot. Padahal, penumpangnya saat ini minim. ’’Jangankan satu jam. Ditunggu dua jam kalau dapat penumpang cuma dua saja ya tetap diangkut kok. Makanya tidak kami berlakukan trayek, kasihan nanti mereka nggak dapat uang,’’ pungkasnya. (oce/fen)


 

Editor : Fendy Hermansyah