Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Hasil Pertanian Jamaah Dilelang dan Hasilnya Dipakai Persembahan

Imron Arlado • Senin, 11 Oktober 2021 | 18:00 WIB
hasil-pertanian-jamaah-dilelang-dan-hasilnya-dipakai-persembahan
hasil-pertanian-jamaah-dilelang-dan-hasilnya-dipakai-persembahan

Banyak cara mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kenikmatan yang diberikan. Seperti Hari Raya Unduh-unduh yang melekat di tradisi umat kristiani. Meski dibatasi dan tanpa disertai arakan, perayaan sebagai bentuk terimakasih terhadap Tuhan ini tetap berlangsung dengan khidmat.


INDAH OCEANANDA, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto


Tak seperti ibadah minggu biasanya. Pagi itu, sekitar pukul 07.45, ratusan jamaah mengenakan pakaian profesi dan suku yang beragam menuju Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong. Dengan membawa berbagai hasil pertanian maupun aneka parsel. Ya, ibadah rutin kali ini sekaligus memeringati Hari Raya Unduh-unduh dengan tema Bhineka Tunggal Ika.


Pendeta GKJW Galih Fendi Christianto mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan pasca masa panen sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan untuk mereka. Juga untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila beberapa waktu lalu. Sehingga, para jamaah diperbolehkan mengenakan pakaian sesuai latarbelakang mereka.”Karena Dawarblandong identik dengan mayoritas petani, jadi diperbolehkan membawa hasil panen langsung atau berupa parsel yang dibeli dengan uang hasil panen,” ungkapnya, Minggu (10/10).


Setelah menjalani ibadah rutin, hasil pertanian yang telah dibawa dilanjutkan proses pelelangan. Galih menuturkan, hasil pertanian yang dibawa tak hanya pakem satu jenis saja. Bisa bermacam-macam seperti buah pisang, nangka, padi sampai berupa parsel berisi kebutuhan pokok. ”Setelah ibadah nanti dilelang dan dibeli sesuai harga dasar yang sudah ditetapkan oleh juru lelang dan pemiliknya. Nah, selanjutnya uang hasil lelang dipakai untuk persembahan,” terangnya.


Prosesi ini berbeda sebelum pandemi. Tahun ini proses pelelangan tak disertai arak-arakan. Lelang dilakukan di depan pelataran gereja dan dibeli oleh keluarga jemaah sendiri. Lantaran, untuk mengantisipasi kerumunan dan menghindari timbulnya klaster. Acara ini pun hanya diikuti oleh separo jamaah di atas 18 tahun. ”Total ada lima anak saja yang ikut sebentar untuk baca Pancasila, habis itu langsung keluar,” ucap pria 33 tahun ini.


Dari kapasitas gereja sebanyak 300 orang, hanya 120 saja yang mengikuti hari raya tahun ini. Galih menyebut, kegiatan ini rutin dilakukan dua kali setahun. ”Ini merupakan hari raya kedua, sedangkan hari raya pertama sudah digelar Mei lalu,” singkatnya.


Seperti tradisi tahun sebelumnya. Usai proses pelelangan kerap ada acara tambahan sesuai tema yang diambil. Acara tambahan tahun ini diiringi tari-tarian dari berbagai suku. Melalui tema keberagaman ini, jamaah diajak untuk saling menghargai kemajemukan yang dimiliki negara Indonesia. Ada tarian dari Batak, Dayak dan Jawa yang di-mix.


Pria asal Lumajang ini mengaku bersyukur bisa melakukan tradisi ini secara tatap muka. Sebab, tahun lalu, acara ini digelar secara virtual. Padahal, lewat tradisi ini, para jamaah bisa saling menghargai dalam perbedaan. ”Ketika menghargai itu sudah tercipta, mari disinergikan untuk kebaikan umat manusia bersama. Tidak hanya untuk kepentingan gereja tapi untuk kemanusiaan terlebih di masa pandemi ini,” pesannya. (ron)

Editor : Imron Arlado