Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perpaduan Ukiran Jawa Majapahitan dan Kaligrafi Arab

Imron Arlado • Jumat, 17 September 2021 | 17:50 WIB
Masjid Besar Darussalam yang terletak di Desa Gemekan Kecamatan Sooko menjadi masjid ikon bagi Kabupaten Mojokerto.
Masjid Besar Darussalam yang terletak di Desa Gemekan Kecamatan Sooko menjadi masjid ikon bagi Kabupaten Mojokerto.

Masjid Besar Darussalam yang terletak di Desa Gemekan Kecamatan Sooko menjadi masjid ikon bagi Kabupaten Mojokerto. Area masjid tengah bersiap menjadi salah satu lokasi wisata religi di Bumi Majapahit.


Masjid Besar Darussalam yang biasa disebut Madasa, dibangun berada tepat di masjid lama yang berada di pinggir Jalan Raya Mojokerto-Mojoagung.


Bangunan masjid ini memiliki lebar 16 meter dengan panjang 37 meter. Kapasitas total masjid dua lantai bisa mencapai 5.000 jamaah. ’’Masjid ini didesain dengan beberapa pendekatan. Seperti pendekatan historis, agamis, teknis, hingga ekonomis,’’ ujar Ketua Yayasan Madasa, Haji Bunawi, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.


Ia menjelaskan, Madasa dibangun tak jauh dari masjid Darussalam lama yang dibangun di abad ke-19. Pendekatan itu diwujudkan dengan penggunaan unsur kayu pada ornamen pilar, dinding, dan pintu masjid. ’’Dinding lapisi dengan ukiran khas Jepara dari kayu jati kualitas ekspor. Ada dua kubah yang masing-masing disangga empat saka guru berlapis Jati terbaik,’’ jelas dia.


Ukiran khas Jawa-Majapahitan itu terasa kian lengkap dengan perpaduan kaligrafi arab. Seperti simbol segi delapan Surya Majapahit dipadukan kaligrafi Allah. Pada bagian mighrob, kata Haji Bunawi menggunakan kiswah dan Al Mutazam.


Sound system yang terpasang dapat diandalkan. Terdapat 118 speaker sealing pada bagian atap dan 8 hanging speaker di dinding. ’’Kalau ada acara dengan 5 ribu jamaah, yang duduk bagian belakang, samping kanan dan kiri bakal mendengar suara dengan jelas,’’ beber dia.


Jamaah yang berada di bagian belakang tetap dapat melihat mihrab secara jelas. Karena, pada bagian tengah-tengah masjid dipasang dua layar monitor berukuran besar. Penggunaan lampu juga dipasang pada tiap sudut atap. Lengkap dengan lampu gantung yang terpasang pada tiap kubah. ’’Lampu gantung itu tidak ada di tempat lain. Harus pesan khusus karena impor,’’ tandas Haji Bunawi.


Masjid juga memiliki ruangan khusus bagi VIP (Very Important Person) yang dilengkapi AC kaset. Bagian plafon masjid, kanan-kiri mihrab, mimbar khusus khatib dan mimbar khusus kyai dipenuhi ukir-ukiran kayu jati. ’’Perkabelan juga tidak terlihat jamaah lagi karena semua masuk sistem,’’ ucap dia.


Madasa tidak hanya berfungsi sebagai area peribadatan pula. Pihak Yayasan Madasa merancang lokasi tersebut sebagai salah satu lokasi wisata religi di Kabupaten Mojokerto. Nantinya, area sekitaran halaman masjid bakal dilengkapi tempat pujasera, tempat makan outdoor, toko retail, dan kios UMKM. ’’Harapan kami, masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah. Area sekitarnya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menggerakkan ekonomi sekitar,’’ tegas Haji Bunawi.


Ditambahkannya pula, dalam program jangka panjang yayasan, direncanakan pula menyebar brosur di berbagai pusat ziarah di Indonesia. ’’Isinya, para peziarah walilimo dan walisongo tak lengkap kalau tidak ziarah ke Makam Mbah Syech Jumadil Kubro di Trowulan. Nanti, mereka bisa istirahat di Madasa karena fasilitasnya lengkap,’’ tambah dia.


Pihaknya mengimbuhkan, Madasa juga mengklaim memiliki bedug terbesar se-Indonesia. ’’Prediksi kami terbesar di Indonesia. Karena yang lebih besar dari punya Madasa belum ada. Di Kutorejo sudah kita lihat, masih besar punya kita,’’ pungkas Haji Bunawi. 

Editor : Imron Arlado