TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tanggal 1 Muharam alias 1 Sura biasanya syarat akan perayaan maupun ritual keagamaan. Namun, penanggalan yang bertepatan dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang berjilid-jilid itu disinyalir membuat sejumlah situs atau wisata religi atau bersejarah sepi.
Artinya, kondisi saat ini berbanding terbalik dengan tahu-tahun sebelumnya. Salah satunya tampak di Petilasan Siti Inggil, di Dusun Kedung Wulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Juru Kunci Petilasan Siti Inggil Moh. As’ad mengatakan, petilasan Raja Majapahit Raden Wijaya itu saat suraan kemarin kondisi sepi. Bahkan, jumlah peziarahnya anjlok lebih dari 50 persen dibandingkan tahun-tahun lalu.
Sebab, peziarah yang memanjatkan doa sejak Senin (9/8) malam hingga kemarin petang hanya sekitar 100 orang. ”Itu sudah termasuk pengunjung yang nginap di petilasan sejak Senin malam (9/8),” ujarnya kemarin. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, tampak hanya beberapa peziarah yang tengah berdoa di kompleks petilasan Raja Majapahit itu.
Sehingga, salah satu destinasi wisata religi di Bumi Majapahit itu tampak sepi. As’ad mengatakan, jumlah peziarah pada suraan kali ini tak seberapa jika dibandingkan dengan suraan sebelumnya. ”Kalau sebelum PPKM yang bisa dua kali lipatnya ini. Malahan, sebelum pandemi (2018) itu sampai lebih dari 300 orang. Parikiran sampai membeludak ke jalan. Bahkan, saking penuhnya sampai ada yang ndak isi buku tamu,” ungkapnya.
Sepinya pengunjung saat suraan itu disinyalir akibat diberlakukannya PPKM yang tak kunjung usai. Sehingga, peziarah dari luar daerah yang hendak menuju salah satu petilasan Raja Majapahit itu mengurungkan niatnya. Tak lain karena kian diperketatnya protokol kesehatan (prokes) di hampir semua sektor.
”Bisa jadi karena sedang PPKM ini. Kan di sini juga dipantau terus sama petugas dan diwanti-wanti supaya tidak menimbulkan kerumunan,” bebernya. Dia menambahkan, pengunjung petilasan pendiri Kerajaan Majapahit itu dari berbagai daerah. Mulai dari Mojokerto Raya hingga luar Jawa Timur sekalipun. Hanya saja, di sana mereka tak ada ritual lain selain memanjatkan doa untuk para leluhur saat suraan tiba.
”Ndak ada (peziarah) yang (melakukan ritual untuk benda) pusaka-pusakaan atau gimana gitu. Ya cuma uri-uri leluhur istilahanya,” tandas As’ad.Sementara itu, Heru salah satu peziarah asal Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang mengatakan, jumlah pengunjung Petilasan Siti Inggil saat suraan kali ini masih lebih baik ketimbang hari biasa. Hanya saja, suraan saat ini lebih sepi daripada sebelumnya. ”Ini masih mending daripada hari biasa, kalau hari biasa malah lebih sepi. Kalau dibandingkan sama suraan sebelumnya ya lebih sepi sekarang,” ujar pria yang hampir tiap minggu berkunjung ke Siti Inggil ini.
Editor : Imron Arlado