Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Produksi Empat Film, Daftarkan di 20 Festival Internasional

Imron Arlado • Rabu, 14 Juli 2021 | 16:35 WIB
produksi-empat-film-daftarkan-di-20-festival-internasional
produksi-empat-film-daftarkan-di-20-festival-internasional

Film Cinema Without Magic yang sukses merebut dua penghargaan di Festival Word Film Carnival Singapore (WFC-S) ternyata bukan karya pertama yang mereka garap. Sejak 2019, komunitas anak muda yang eksis sebagai filmaker asli Mojokerto ini sudah memproduksi beberapa karya sinema hasil sharing dan pemikiran sendiri.


 


FARISMA ROMAWAN, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto


 


PERJALANAN komunitas ini dimulai pada Juli 2019 ketika lima founder yang berbeda kampus dan studi ini sepakat membuat sebuah karya untuk menunjukkan identitasnya sebagai filmaker di Mojokerto. Mereka terhitung nekat, lantaran belum saling kenal. Meski sudah sering bertemu di beberapa ajang festival film antardaerah.


Namun, demi sebuah kebanggaan, Wahyudin Hasani Widodo (penulis cerita dan director), Rifan Fahmi Fikri, (editor) Tegar Alif (kameraman), Syafril Maulana (director of photograpy), dan Andhi Prasetya (line produser) berjanji merampungkan produksi film pertamanya berjudul Suatu Kisah di Permukaan.


Film tersebut terinsprasi dari dari banyaknya potensi kota yang kurang dimaksimalkan lewat kisah sedih nelayan Sungai Brantas. ’’Tujuan utamanya sih sebenarnya wadah sharing, bagaimana proses pembuatan film di Mojokerto. Intinya, sama-sama saling belajar sekaligus berkarya, hingga terbentuk iklim perfilman di Mojokerto,’’ terang Andhi Prasetya.


Setelah rampung syuting dan editing, film sempat dikenalkan ke publik. Namun, kurang lengkap rasanya pengenalan tanpa disertai nama kelompok sebagai identitas. Hingga akhirnya tercetuslah Studio Cerita sebagai nama komunitas mereka. Pengenalan film pun dilanjutkan dengan road show pemutaran film ke lingkungan atau kelurahan.


’’Saat itu fokus Studio Cerita tidak hanya produksi, tapi juga bertujuan untuk edukasi dan ekshibisi,’’ tandasnya. Awal 2020, Studio Cerita juga sempat menggelar workshop film ke sekolah-sekolah. Akan tetapi, baru dua kali workshop bergulir, badai pandemi Covid-19 datang menghadang. Sehingga, menghentikan seluruh aktivitas akibat pembatasan aktivitas. ’’Workshop terakhir ada di SMAN 2, dan pesertanya sangat antusias sampai diikuti ratusan siswa-siswi,’’ tambah Wahyudi, sang sutradara.


Meski dibatasi, bukan berarti menghentikan langkah mereka dalam berkarya. Bahkan, beberapa pegiat film yang menempuh studi di luar daerah terpaksa pulang agar bisa ikut bergabung. Hingga akhirnya mereka kembali berkarya dengan beberapa film lanjutan. Mulai dari film Sanjang dan Merisau yang banyak penyempurnaan dari produksi film-film sebelumnya. ’’Teman-teman yang di Jogjakarta, Jakarta, Malang, Surabaya, dan Jember pulang semua dan ikut produksi. Saat ini, anggota kami sudah ada 26 orang,’’ tambahnya.


Proses produksi di masa pandemi diakui mereka tidaklah mudah. Khususnya, dalam menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, baik saat syuting maupun editing. Namun, keterbatasan itu terbayar saat film mereka diputar. Bahkan, pemutaran film sempat diminati hingga ratusan penonton.


’’Kami terpaksa menutup registrasi penonton lebih awal dari jadwal pemutaran karena antusiasmenya sangat banyak. Semua itu demi menaati prokes,’’ tambahnya. Setelah melalui proses panjang itu, Studio Cerita tertantang menggarap film keempat yang bisa dilombakan di festival film, baik nasional maupun internasional.


Film bertajuk Cinema Without Magic akhirnya tercetus dan diproduksi dengan melibatkan hingga 64 kru dan talen pada Mei 2021 lalu. Pengalaman di tiga film sebelumnya membuat mereka cukup proper dalam berkarya. Baik pra syuting, saat syuting, hingga pasca syuting. Dan perjuangan melelahkan mereka akhirnya terbayar lunas.


Saat Festival Word Film Carnival Singapore (WFC-S) mengumumkan film garapan mereka terpilih sebagai yang terbaik di dua kategori sekaligus. Dengan menyandang penghargaan sebagai outstanding achievement short film dan outstanding achievement silent film. Potensi meraih penghargaan kembali di festival film ternyata tidak berhenti di WFC-S.


Sebab, film berdurasi 15 menit ini juga didaftarkan di 20 ajang film internasional lain di tersebar di beberapa negara. Sehingga, nilai perjuangan mereka masih akan terbayar jika memang terpilih kembali sebagai yang terbaik. ’’Kami masih punya asa di festival lain. Tapi, dengan penghargaan di festival Singapore, kami sudah bangga,’’ tandasnya. (ris)


Editor : Imron Arlado