Ada sejumlah kelebihan rokok tingwe yang tidak dimiliki rokok bermerek. Hal itu dianggap menjadi nilai plus dari rokok jenis ini. Mulai dari rokok yang bisa di-custom hingga tembakau yang bisa di-mix dalam satu batang rokok. Tak ayal, rokok tingwe kian digandrungi oleh berbagai kalangan.
Seperti yang diakui Tri Widiatmoko. Pemilik toko Tembakau Anucara ini menceritakan, permintaan sejumlah jenis tembakau kian melonjak tajam. Itu terlihat dari penjualan tembakaunya yang bisa 50 kilogram setiap bulannya. Itu berbanding terbalik dari setahun belakangan saat ia merintis usahanya. Saat itu, tembakaunya hanya laku sekitar 5 kg setiap bulan. ”Sekarang kalau dirata-rata sekitar 50 kg. Itu dari tiga toko, di Jalan Raya Puri, Jalan Empunala, dan Jalan Wijaya Kusuma. Kalau dulu memang masih dari satu toko,” ujar Tri.
Dijelaskannya, ada empat jenis tembakau yang biasa dijual untuk umum. Yakni tembakau pabrikan, original, flavour, dan cangklong. Yang paling banyak diburu konsumen adalah tembakau jenis pabrikan dan original. Lantaran keduanya dinilai selaras dengan selera konsumen di Mojokerto. ”Kalau pabrikan itu racikannya hampir mirip dengan rokok-rokok yang dijual di pasaran. Bedanya, harganya ini lebih miring. Kalau yang orisinal ini karena memang itu tembakau murni tanpa campuran saos (bahan kimia dan alkohol). Jadi rasanya khas dari tembakau itu sendiri,” ungkapnya. Tembakau orisinal itu di antaranya, tambeng, paiton, dan bondowoso.
Tri menambahkan, peminat rokok tingwe didominasi kaum muda. Orang dewasa pun tak mau kalah meski tak sebanyak kalangan milenial. Rata-rata pelanggannya adalah pelajar dan mahasiswa. ”Market kami itu 80 persen anak muda dan 20 persen orang dewasa, usia 45 tahun ke atas lah,” beber anggota Komunitas Tembakau Tingwe Indinesia (KTTI) ini.
Dijelaskannya, mereka biasa memburu tembakau kiloan yang rata-rata harganya Rp 25 ribu per ons. Apalagi, mereka bisa membeli dengan harga eceran dan bisa dicampur dengan berbagai jenis tembakau lainnya. Setidaknya, ada 35 jenis tembakau se-Indonesia yang disajikan di tokonya. ”Beli Rp 5 ribu bisa, mau (tembakaunya) dicampur pun bisa. Jadi pembeli itu bisa membuat rokok sesuai seleranya sendiri. Mau dibuat kretek atau filter juga bisa,” paparnya.
Selain bisa meng-custom rokoknya sendiri, pembeli pun bisa menikmati rokok dengan harga yang relatif lebih murah dibanding rokok berlabel. ”Kalau mereka yang biasanya nyepur, sehari bisa habis satu bungkus yang harganya bisa sampai Rp 25 ribu. Padahal itu ndak sampai satu ons. Tentunya jauh lebih murah,” tandas pria 39 tahun itu. (vad)
Editor : Imron Arlado