KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kerusakan gedung yang berujung ditutupnya sejumlah pelayanan di Graha Mojokerto Service City (GMSC) rupanya tidak hanya berdampak kerugian pada masyarakat. Pemkot diperkirakan juga akan kehilangan ratusan juta rupiah dari pendapatan asli daerah (PAD) atas pemanfaatan mal pelayanan publik (MPP) tersebut.
Plt Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP dan Naker) Kota Mojokerto Gaguk Tri Prasetyo mengatakan, terjadinya sejumlah kerusakan di GMSC, terutama di lantai dua berdampak terhadap kerugian-kerugian yang dialami pemkot. Khususnya dalam hal penyelenggaraan pelayanan masyarakat. ’’Secara umum, kinerja kami dalam rangka memberikan pelayanan masyarakat yang lebih optimal tentu saja terganggu. Karena seperti yang kita harapkan, GMSC ini menjadi pusat layanan bagi masyarakat,’’ terangnya.
Terlebih, di lantai MPP sebelumnya telah dipersiapkan untuk membuka berbagai macam jenis layanan. Mulai pelayanan di bidang perizinan, perbankan, pengurusan SIM, paspor, pembayaran pajak, serta sejumlah konter layanan lainnya. Namun, pasca insiden plafon runtuh pada Januari lalu, seluruh pelayanan terpaksa dikembalikan kepada instansi-instansi pemberi layanan masing-masing. ’’Setelah adanya kejadian itu (atap plafon ambruk), konsep pelayanan terpadu satu pintu tidak bisa kita wajudkan,’’ paparnya.
Praktis, saat ini hanya tersisa pelayanan perizinan yang saat ini diboyong di kantor DPMPTSP dan Naker. Pun dengan pelayanan administrasi kependudukan (adminduk) yang sementara dilayani di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) yang sama-sama berada di lantai tiga GMSC. ’’Itu pun kita layani di ruangan yang kita siapkan untuk sementara. Sehingga masih belum representatif sebagai pelayanan masyarakat,’’ paparnya.
Di sisi lain, Juni depan, Kota Mojoekrto sedianya juga bakal mendapat kunjungan dari Kementerian Pendayagunaan Apratur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB). Agenda lawatan itu berkaitan dengan penilaian kinerja pelayanan publik dan kinerja PTSP. Namun, sebut Gaguk, pihaknya tidak bisa mampersiapkan secara maksimal ajang penilaian tersebut akibat adanya kerusakan di GMSC.
Hal itu pun akan mempersempit peluang Kota Mojokerto untuk mendapatkan penghargaan dari Kemen PAN-RB. ’’Artinya, kami harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa meningkatkan nilai dari variabel-variabel lain yang masih memungkinkan untuk kita kejar,’’ beber Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota itu.
Pemkot Mojokerto juga diperkirakan kehilangan potensi PAD imbas kerusakan di gedung empat lantai itu. Pasalnya, hall atau ruang pertemuan yang berada di lantai empat GMSC juga ditutup untuk publik atas pertimbangan keamanan. Karena bagian permukaan plafon di lantai empat kini kondisinya anjlok dan terjadi kemiringan.
Padahal, ruang pertemuan tersebut sebelumnya menjadi salah satu sumber pendongkrak PAD. Bahkan, pemkot mampu meraup sedikitnya Rp 200 juta dari target pendapatan yang dipatok dari sewa hall GMSC. ’’Target kita setiap tahun selalu tercapai dan melebihi. Tapi untuk tahun ini kemungkinan besar untuk tahun ini kita akan kehilangan PAD dari sewa hall itu,’’ tandasnya.
Salah satu potensi yang hilang adalah agenda seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2021 yang rencana digelar bulan depan. Gaguk menambahkan, tahun lalu GMSC mampu memperoleh PAD dari gelaran tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) yang dilaksanakan di hall GMSC. Padahal, dari pelaksanaan tes CPNS yang diikuti oleh peserta dari Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, dan Jombang, itu mampu menyumbang PAD sebesar Rp 130 juta. Di samping itu, pendapatan juga diperoleh dari beberapa acara yang digelar di hall GMSC.
Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mojokerto ini menambahkan, menindaklanjuti hasil sidak Wali Kota Ika Puspitasari Senin (17/5), kemarin pihaknya melakukan penelusuran terhadap proyek pembangunan GMSC. Termasuk menginventarisir kerusakan-kerusakan yang pernah terjadi di gedung yang dibangun secara multiyears itu. ’’Karena data-data itu sangat kita perlukan dalam rangka mencari solusi yang komperehensif. Termasuk diperlukannya audit secara menyeluruh,’’ pungkasnya.
Editor : Imron Arlado