Ngabuburit di tempat keramaian masih menjadi pilihan banyak orang. Salah satunya Alun-Alun Kota Mojokerto. Tak sekadar duduk-duduk menunggu waktu berbuka. Di antara mereka juga melakukan olahraga ringan. Selain membunuh kebosanan, sedikit menggerakkan tubuh, bisa membuat badan lebih segar.
Seperti Muhammad Saiful Ghozi. Ia mengisi waktu ngabuburitnya dengan bermain skateboard di kawasan Alun-Alun Kota Mojokerto. Remaja 19 tahun ini sengaja datang ke pusat kota tersebut untuk menunggu waktu berbuka. ”Daripada di rumah saja, bosan,” ungkap warga Lingkungan Kradenan, Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon ini.
Sadam, panggilan akrabnya, tak seperti kebanyakan pengunjung yang datang ke jantung kota untuk bersantai. Tak mau hanya duduk-duduk di bangku taman menunggu bedug magrib berkumandang. Dia lebih senang bermain bersama papan luncurnya. ”Lumayan bisa dapat keringat. Kalau cuma duduk-duduk sama saja dengan di rumah,” tutunya.
Dia mengaku lebih fresh dan tidak selemas saat sepanjang hari berada di rumah menunggu berbuka puasa. ”Jadi lebih ndak kerasa lah waktunya,” akunya. Hal ini terjadi lantaran olahraga ini bisa mengalihkan perhatiannya dan tak hanya terfokus menahan rasa lapar saja.
Hal senada juga diungkapkan Muhammad Yusuf Setiawan. Warga Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon ini sengaja datang ke alun-alun mencari suasa berbeda. Baginya, ngabuburit untuk menyenangkan diri supaya hawa lapar dan haus yang dirasakannya tidak terasa. Ia hanya melihat orang-orang yang sama sedang ngabuburit di alun-alun. ”Buat seneng-seneng aja supaya tidak terasa puasanya,” ungkap remaja 19 tahun ini.
Berjalan-jalan di alun-alun menikmati hilir mudik orang menjadi caranya menghilangkan kebosanan. Hal ini juga sebaga terapi supaya dirinya tidak bergantung dengan handphone (HP) terus. ”Biar tidak bosen. Daripada main HP terus,” tambahnya. (adi)
Jangan Abaikan Makna Puasa
Ngabuburit. Waktu yang sejenak untuk melupakan rasa lapar di jam-jam kritis. Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan untuk menunggu berbuka. Tak sekadar berburu makanan takjil. Nongkrong di tempat-tempat terbuka juga kerap menjadi pilihan kawula muda melepas rasa bosan.
Akan tetapi, tak jarang, ngabuburit dinilai membosankan dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja. Banyak yang menganggap, ngabuburit sebagai ajang sia-sia dalam menghabiskan waktu. Hal ini juga diamini sebagian besar para ustaz dan ulama yang menilai ngabuburit sebagai ajang yang bisa merugikan dan menghilangkan pahala puasa jika tidak bisa dikendalikan sedemikian rupa.
’’Kan bisa diisi dengan kegiatan yang sifatnya ibadah. Bisa ngaji kilatan, atau membaca salawat diba,’’ ujar pengasuh pondok pesantren Sabilul Muttaqin Kota Mojokerto, KH Muthohharun Afif.
Tak jarang, anak muda saat ini dinilai kurang mengerti soal pantangan selama menjalankan ibadah rukun Islam ke empat itu.
Di mana, tidak hanya sekadar menahan makan dan minum. Tapi juga harus bisa menahan hawa nafsu yang lain. Nah, ngabuburit di tempat-tempat terbuka terkadang mampu memunculkan sifat-sifat negatif jika tidak bisa dikendalikan. Padahal, waktu-waktu jelang buka puasa dinilai sangat mustajab untuk memanjatkan doa-doa yang ingin dikabulkan.
Untuk itu, butuh cara atau motif yang lebih positif dalam mengisi waktu jelang berbuka. Mengisi kegiatan dengan ibadah mahdah dianggap bisa mengalihkan perhatian. Selain wiridan, juga bisa membaca quran atau turut serta memberi santunan ke anak-anak yatim. ’’Semangat ini yang harusnya kita dukung. Agar nilai ibadah puasa ini terjaga baik,’’ tegas KH Maksum Maulani.
Editor : Imron Arlado