Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kameranya Seharga Mobil Mercy, Kini Tak Diminati Lagi

Moch. Chariris • Kamis, 11 Februari 2021 | 01:55 WIB
kameranya-seharga-mobil-mercy-kini-tak-diminati-lagi
kameranya-seharga-mobil-mercy-kini-tak-diminati-lagi

Kejayaan afdruk kilat jadi cerita masa lalu. Usaha cetak foto yang berseberangan persis dengan Gereja Eben Haezer di Jalan Kartini, Kota Mojokerto tersebut sempat mengalami masa keemasan. Meski fotografi analog perlahan tergerus zaman, Sulikin tetap ingin mempertahankan usahanya yang berawal dari hobi tersebut.


MASYARAKAT yang membutuhkan dokumentasi foto era 1980-an sampai 1990-an pasti mengenal foto dengan klise, atau biasa disebut negatif film. Semenjak era digital datang, hasil foto berwarna hitam putih ini mulai tersingkir. Seperti pengakuan Sulikin, penyedia jasa cetak foto kilat di Jalan Kartini, Kota Mojokerto, ini misalnya.


Sekitar tahun 2005 dia mulai merasakan dampak munculnya foto digital. Hasil foto berbasis data atau file yang disimpan pada piranti multimedia card (MMC) ini membuat usahanya lesu. ”Dulu yang pertama buka itu ayah saya tahun 1945-an. Ini cetak foto paling lama di Mojokerto. Terus saya mulai buka sendiri di sini sekitar tahun 1986,” ujar pria 8 tahun itu.


Dimulai dari keinginannya meneruskan usaha sang ayah sebagai fotografer. Sulikin pun akhirnya mulai belajar tentang fotografi dengan salah satu komunitas di Surabaya pada tahun 1970-an. Akhirnya, dia pun mantap memutuskan untuk mengikuti jejak sang ayah untuk bergelut di bidang fotografi.


Tak heran, kini di almari sudut tokonya masih terpajang koleksi kamera yang booming pada tahunnya. ”Salah satu kamera yang paling saya sukai ya merek ini. Dulu kalau punya ini, kemana-mana saya kalungin. Soalnya harganya setara dengan mobil Mercy waktu itu,” kenangnya sambil menunjukkan kamera bermerk Yashica MG.


Lanjut dia, kini kamera analog tersebut hanya laku dijual sekitar Rp 400 ribu di pasaran. Nyatanya, mendirikan usaha cetak foto pun tak semudah yang dia bayangkan. Dulu, untuk mencetak satu foto saja bisa menghabiskan waktu hingga tiga hari. Selain prosesnya yang panjang, Sulikin menyebutkan pada waktu itu harga mesin pencetak foto terbilang mahal.


Yakni, Rp 60 juta alias tiga kali lipat dari harga rumahnya sendiri. ”Dibanding harga rumah saya ini, malah mahal mesinnya. Wong rumah ini harganya Rp 20 juta, waktu itu ya saya nyicil beberapa tahun baru bisa kebeli mesinnya,” tutur pria paro baya asli Mojokerto tersebut.


Dia menuturkan, usai melunasi mesin cetak foto tersebut, usahanya mulai berkembang pesat. Namun, menjelang tahun 2005 teknologi digital pun berkembang. Hal tersebut juga memberikan dampak pada percetakan fotonya. Dikarenakan, semua orang mulai beralih menggunakan kamera handphone (HP) mereka untuk mengabadikan gambar.


Alhasil, percetakan foto melalui negatif film pun mulai ditinggalkan. ”Sekarang sudah nggak ada lagi yang pakai begitu. Alatnya juga sudah saya taruh di gudang. Lagian, kalau misal ada yang mau nyuci dari film seperti itu, sekarang harus kirim ke Jakarta terus dikirim lagi ke Malaysia, baru bisa cetak,” terangnya.


Padahal, menurut Sulikin kualitas cetak foto dari kamera analog lebih bagus dibandingkan kamera saat ini. Selain karena kelangkaan, Sulikin mengaku saat ini onderdil mesin cetak foto tersebut sudah tak diproduksi lagi oleh perusahaannya.


Alasan dia masih ingin bertahan di tengah derasnya arus digital saat ini, tak lain dikarenakan fotografi seolah-seolah sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sehingga, di masa tuanya, Sulikin ingin menghabiskan hidupnya dengan dunia fotografi.


”Sudah 35 tahun saya rintis. Sekarang larisnya hanya untuk pas foto saja, selain itu nggak ada. Anak saya pun juga nggak mau nerusin usaha ini,” jelasnya. Bagi Sulikin, semua pasti memiliki masa jayanya masing-masing. Sehingga, menurut dia dengan tetap mendirikan usaha cetak foto di zaman ini bukanlah sebuah keputusan yang buruk. (oce)


 


 

Editor : Moch. Chariris