Pembangunan infrastruktur adalah salah satu pogram utama wali kota perempuan pertama di Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, bersama Wakilnya Achmad Rizal Zakaria. Pada tahun kedua kepimpinan Ning Ita-Cak Rizal pembangunan infrastruktur di Kota Mojokerto tetap berjalan terutama pembangunan infrastruktur yang dapat mendukung percepatan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia.
Membahas tentang Kota Mojokerto tentu tak bisa lepas dari Kerajaan Mojopahit, sebuah kerjaan besar abad Ke-14, yang mana hampir semua perdagangan di Nusantara dikuasi oleh para saudagar dari Majapahit. Dalam Spirit of Mojopahit, di bawah kepemimpinan Ning Ita-Cak Rizal, warga Kota Mojokerto patut berbangga diri dengan diselesaikannya pembangunan Pasar Benteng Pancasila.
Dari segi fungsi, pasar ini adalah sebagai tempat pengganti bagi para pedagang yang lapaknya terbakar pada tahun 2017 silam. Sedangkan dari segi arsitektur pasar ini didominasi oleh warna batu bata merah yang merupakan ciri khas arsitektur Majapahit. Hal yang paling menonjol adalah pintu masuk Pasar Benpas, yang berupa gapura layaknya sebuah gerbang yang terbelah dengan struktur bangunan semakin ramping ke atas.
Nuansa Majapahit juga melekat pada bangunan pendapa yang ada di kantor Wali kota Mojokerto di Jalan Gajah Mada maupun pendapa Rumah Rakyat di Jalan Hayam Wuruk. Selain penerapan warna batu bata merah, pendapa dibuat terbuka dengan atap limas.
Selain rampungnya pembangunan pasar Benpas, pada masa dua tahun kepemimpinan Ning Ita-Cak Rizal juga telah menyelesaikan renovasi pemandian Sekar Sari tahap I.
Masih seputar pembangunan di Kota Mojokerto, yang tak boleh ketinggalan adalah selesainya renovasi Masjid Al-Fattah. Masjid tertua di Mojokerto ini mengalami renovasi total dengan menggabungkan arsitektur timur tengah dan tradisional ala majapahit. Dalam renovasi Masjid al-Fattah semua didesain ulang, tetapi tetap mempertahankan empat tiang utama (soko guru) yang merupakan warisan cagar budaya.
Bangunan utamanya meniru gaya Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Mulai dari kubah, menara, serambi hingga bagian dalam masjid. Bahkan atap teras masjid dibuat dari pelat kuningan dengan warna emas.
Konsep Majapahit tampak pada bangunan pagar depan masjid. Pilar pagar dan kolong pagar dibuat dari batu besar yang dipahat oleh seniman dari Trowulan. Tak hanya itu, di halaman masjid juga ditambahkan sebuah taman kecil dan kolam ikan untuk mempercantik masjid ini.
Berseberangan dengan Masjid Agung Al-Fattah, Alun-Alun Kota Mojokerto juga mempercantik diri dengan nuansa Majapahit. Pembangunan alun-alun akan dilakukan secara bertahap (multiyears) selama masa kepemimpinan Ning Ita dan Cak Rizal. Saat ini, pembangunan yang telah terselesaikan adalah penambahan ornamen Mojopahit yang berada di sisi barat alun-alun yang tepat berhadapan dengan Masjid Agung Al-Fattah. Wajah baru Alun-Alun Kota Mojokerto juga tampak dengan penambahan pendapa khas mojopahit pada sisi timur alun-alun.
Terkait pelaksanaan pembangunan yang tengah berlangsung, Ning Ita menyampaikan bahwa hal ini adalah sebagai upaya untuk menjadikan Kota Mojokerto sebagai Kota Pariwisata. ’’Selain menyiapkan destinasi wisata, kami juga menyiapkan unsur-unsur pendukung pariwisata seperti pelatihan pemandu wisata, pelatihan homestay dan pelatihan bagi para pelaku ekonomi kreatif,’’ jelas Ning Ita.
Ning Ita berharap, dengan pembangunan infrastruktur serta berbagai pelatihan bagi warga Kota Mojokerto mampu meningkatkan kesejahteraan warga Kota Mojokerto. (al)
Editor : Imron Arlado