LIBUR Nataru kali ini tak membuat pelaku usaha hotel di Mojokerto bernapas lega. Hingga kini okupansi hotel masih jeblok dibanding tahun sebelumnya. Angkanya di bawah 50 persen. Selain kondisi pandemi, gencarnya pemerintah mengampanyekan tetap berada di rumah disebut-sebut juga menjadi pemicu.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Mojokerto Satuin menegaskan, libur Nataru kali ini memang sangat berbeda dengan tahun lalu. Jika sebelumnya libur akhir tahun menjadi momen bagi pelaku usaha hotel kebanjiran orderan kamar.
Pandemi Covid-19 belakangan ini membuat pelaku usaha kian tercekik. Mereka seakan menelan pil pahit seiring lesunya orderan di momen liburan pergantian tahun ini. ’’Sampai saat ini okupansi masih landai-landa saja. Di Trawas masih 35 persen, di kota malah lebih sedikit,’’ ungkapnya.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun lalu. Dalam waktu yang sama, tahun lalu orderan hunian di sejumlah hotel Mojokerto sudah mencapai sekitar 65 persen. Menurutnya, jebloknya hunian hotel di libur akhir tahun ini merupakan dampak Covid-19 yang belum selesai. Bahkan, kian masif terjadi di berbagai daerah. Termasuk di Mojokerto sendiri.
Kondisi itu diperparah dengan begitu gencarnya imbauan-imbauan tentang Covid-19. Sehingga, tamu yang biasanya berlibur ke daerah Trawas maupun Pacet saat ini memilih tinggal diam di rumah saja. ’’Bahkan saat ini ada anggota kami yang di Trawas masih 15 persen kamar yang ter-booking,’’ tambahnya.
Berbagai cara sudah dilakukan PHRI untuk meyakinkan masyarakat agar tidak ragu dan takut lagi saat berlibur ke Trawas atau pun Pacet untuk memanfaatkan fasilitas hotel yang sampai saat ini masih lowong. Namun, upaya itu tak maksimal. PHRI juga menjamin jika seluruh hotel sudah menerapkan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 ketat. Bahkan, PHRI juga membentuk tim evaluasi new normal yang diketuai oleh Kepala Disparpora Kabupaten Mojokerto.
Setiap hotel maupun restoran dan tempat-tempat wisata yang sudah memenuhi syarat langsung mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO). ’’Untuk meyakinkan hal tersebut saya juga menyarankan anggota saya selalu memasang banner di depan Hotel, banner itu bunyinya selamat datang di hotel Tangguh Semeru, ’’ papar Satuin.
Tak hanya itu, lesunya hunian hotel membuat manajemen juga tak lagi menaikkan tariff layaknya tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 lagi-lagi menjadi faktor pertimbangan. ’’Bahkan sebelum Natal ini anggota kami banyak yang menurunkan harga. Itu pun tamunya tidak ada, apalagi dinaikkan kan,’’ keluhnya.
Editor : Imron Arlado