Seiring dengan perkembangan zaman, permainan tradisional memiliki saingannya sendiri, permainan modern. Meski begitu, masih ada beberapa komunitas yang peduli untuk mengenalkan kembali permainan tradisonal kepada masyarakat. Khususnya kalangan anak-anak dan gerenasi milenial.
SALAH satunya Aldias Biung Sankra. Perempuan 25 tahun itu mendirikan komunitas bersama empat temannya untuk mengadakan festival dolanan anak di sekitar kompleks Candi Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
"Festival ini sudah dua kali, pertama itu tahun lalu. Yang tahun ini bulan Mei lalu, mau ngadain rutin lagi tapi ada pandemi jadi berhenti dulu,” ujar Sankra, Sabtu (12/12).Biasanya di dalam festival tersebut, ada berbagai macam jenis permainan tradisonal yang dimainkan. Seperti gasing, dakon, kelereng, termasuk juga rangka alu.
Ia menuturkan, permainan yang terdapat di festival dolanan anak bermacam dari segala daerah. Sehingga anak-anak bisa mengenal berbagai jenis permainan tak hanya yang ada di Pulau Jawa saja.
”Selain mengenalkan, kita juga ingin melestarikan permainan tradisional yang hampir terkikis oleh zaman, apalagi sekarang ada gadget ,” tuturnya.
Selain bentuk pelestarian, Sankra mengatakan permainan tradisional tersebut bisa memberikan sedikit banyaknya pelajaran dari sisi moral maupun budaya. Lanjutnya, melalui permainan tradisional anak-anak bisa menjalin komunikasi dengan temannya. Juga menghindari anak-anak nanti akan tumbuh menjadi pribadi yang individualis.
”Iya target kami minimal anak-anak bisa menerapkan permainan tradisional lagi seperti dulu. Semoga tahun depan sudah bisa gelar festival lagi. Karena ternyata memang banyak anak yang antusias juga sama event ini,” harapnya.
Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto Amat Susilo menyatakan, perkembangan zaman memang sudah tak bisa dibatasi lagi oleh setiap orang.
Yang mana juga tentunya berdampak pada eksistensi permainan tradisional yang semakin lama semakin tergerus zaman. Sejatinya, lanjut dia, permainan tradisional sendiri tak semuanya hilang secara keseluruhan.
”Masih ada yang dimainkan anak-anak, meski hanya beberapa. Ya makanya beberapa permainan tradisional itu kami jadikan olahraga tujuannya biar anak-anak juga kenal sama warisan budaya,” terang Amat. Padahal, permainan tradisional juga memiliki peranan besar bagi tumbuh kembang anak.
Selain itu, permainan tradisional juga termasuk dalam budaya turun-temurun dari leluhur, sehingga patut dilestarikan. Tambahnya, permainan tradisional mengandung banyak nilai-nilai luhur yang mungkin sudah mulai meluntur saat ini.
Sebab, dari permainan tradisional pun juga bisa mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan baik ke sesama secara langsung. ”Jadi butuh dukungan dari banyak pihak. Orang tua juga termasuk peran besar di sini. Ya kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikan,” tandasnya. (oce)
Editor : Moch. Chariris