KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Lantaran kasus gangguan kejiwaan selama pandemi meningkat, rumah Among Budoyo yang menampung orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mengalami overload. Wulung Jeliteng, pemilik sekaligus pengelola menuturkan, hingga Senin (16/11) sudah ada 24 ODGJ yang tertampung di rumahnya di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
”Selama pandemi ini jumlah ODGJ meningkat. Karena ada pandemi juga saya harus membatasi satu kamar. Biasanya isi 4 orang sekarang jadi dua orang saja,” ujar Wulung. Pria 62 tahun itu mengaku untuk membiayai kebutuhan pasien sehari-hari melalui pendapatannya selama ia mengadakan pentas karawitan. Namun, sebab adanya pandemi, otomatis kegiatan pentasnya berhenti.
Ia pun kebingungan bagaimana mencari cara untuk menghidupi para ODGJ tersebut. ”Baru bulan kemarin, dua sepeda motor punya saya, saya jual untuk biaya makan mereka,’’ paparnya. Wulung menyebutkan, sudah puluhan tahun ia tinggal dan mengobati pasiennya. Sebagian dari mereka merupakan kiriman dari keluarga. Sisanya, tak diketahui siapa keluarganya.
Among Budaya sempat pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Namun, setelah itu tak pernah mendapat bantuan lagi. ”Ribet soalnya. Harus pakai proposal dulu kalau mau ngurus gitu,” ujarnya. Saat ini bapak anak sembilan itu tak mau repot-repot mengurus semacam bantuan dari pemerintah. ”Niatnya nolong saja. Kalau pun mau dibantu, ya monggo kalau ndak ya sudah. Cari sendiri saja,” imbuhnya.
Terkait pengobatan untuk ODGJ, Wulung menyebutkan ia tak pernah menarik biaya sama sekali. Dan pengobatan yang ia lakukan selama ini hanya dengan pendampingan psikologis saja. Mereka yang sudah sembuh akan dicarikan pekerjaan dan beberapa ada yang pulang ke daerah asalnya. ”Yang sekarang sudah kerja ya ndak sekitar Mojokerto aja. Ada yang kerjanya di Lamongan, Jombang, bahkan Kalimantan juga ada,” tambahnya.
Sejauh ini, tak penah ada masalah berarti di dalam rumah penampungannya. Diakuinya, pertengakaran kecil sesama pasien pernah terjadi, tapi hal tersebut masih maklum. Menurut Wulung, para pasiennya sudah sperti keluarga besar dan saling membantu. ”Mereka itu baik aslinya. Pada rukun-rukun semua. Malah yang waras bisa kalah rukun sama mereka,” tandasnya. (oce)
Editor : Imron Arlado