Di masa pandemi Covid-19, ramuan-ramuan warisan leluhur kembali populer di tengah masyarakat. Salah satunya adalah jamu yang diolah dari berbagai macam bahan herbal.
Racikan alami yang dibuat untuk minuman tersebut diyakini berkhasiat dalam membentengi tubuh dari berbagai ancaman penyakit. Termasuk untuk menangkal paparan virus korona jenis baru.
JAUH sebelum mewabahnya virus SARS-CoV-2, masyarakat Jawa, tak terkecuali di wilayah Mojokerto memiliki tradisi dan budaya mengonsumsi jampi atau jamu. Mengingat, banyak tanaman herbal yang tumbuh subur di perkebunan maupun ladang pertanian masyarakat.
Sehingga bahan-bahan dasar seperti kunyit, jahe, temulawak, kencur, dan berbagai jenis tumbuhan rempah lainnya bisa dengan mudah didapat.
Ricky Budi Arsono, 27, penjual bahan-bahan herbal sekaligus peramu jamu tradional di Jalan Niaga, 26, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari mengungkapkan, sejak awal mewabahnya Covid-19 Maret lalu, bahan dasar jamu menjadi buruan banyak orang.
Terutama jenis tanaman rimpang yang dipercaya memiliki khasiat dalam meningkatkan daya tahan tubuh. "Yang paling banyak dicari empon-empon, khususnya temulawak dan jahe merah," terangnya.
Selain jenis tanaman akar-akaran, permintaan secang dan serai juga cukup tinggi. Ricky menyebutkan jika bahan-bahan tersebut diolah sebagai minuman wedang maupun jamu yang bisa memberikan khasiat bagi tubuh.
Menurutnya, temulawak dapat memperbaiki fungsi lambung sehingga mampu meningkatkan nafsu makan. Sementara zat-zat yang terkandung dalam jahe merah juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh, serta untuk memperkuat imunitas.
Sebagai pelengkap, biasanya ditambahkan dengan bahan-bahan yang memiliki aroma khas. Semerbak wewangian alami dari bahan seperti serai, keningar, sinom, dan kayu manis dapat berfungsi sebagai aromaterapi.
Sehingga bermanfaat untuk merelaksasi tubuh dan menghilangkan rasa kecemasan. "Jadi imunitas bisa dari temulawak dan jahe merah. Sedangkan serai, keningar, secang, dan gula batu sebagai pelengkap cita rasa dan aromanya," ulas pria kelahiran Mojokerto, 26 April 1993 ini.
Di samping untuk pencegahan, ramuan-ramuan herbal juga dipercaya manjur dalam memulihkan kondisi kesehatan. Untuk gejala batuk, pilek, dan demam, misalnya. Generasi ketiga dari peracik jamu Nyak Sar Mojosari ini menggunakan bahan dari adas, pulosari, jinten hitam, kemukus, cengkih, gula batu, kayu manis, tempayang, dan kapulaga.
Semua bahan tersebut direbus dan diminum sari airnya. Bahkan, ramuan herbal warisan nenek moyang juga dianggap bisa mengatasi berbagai gejala penyakit lain dengan kombinasi bahan dan resep yang berbeda.
Menurut Ricky, ramuan itu diperoleh secara turun temurun dari nenek buyutnya. Dia menyebutkan jika jamu tradisional tidak hanya diyakini manjur oleh masyarakat Jawa, tetapi tidak sedikit etnis Tionghoa dan keturunan Arab yang juga mempercayai khasiat dari tanaman obat.
"Dengan bahan yang sama, tapi masing-masing punya resep atau ramuan sendiri," tukasnya. Oleh karena itu, harap dia, di tengah kemajuan teknologi dan farmasi saat ini, keberlangsungan jamu masih bisa dipertahankan oleh masyarakat.
Pasalnya, ramuan dan pengolahan tanaman herbal yang diwariskan para pendahulu tidak akan lekang oleh zaman. Bahkan, masih berpotensi untuk terus dikembangkan secara keilmuan.
Editor : Moch. Chariris