Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ada Doa yang Tersirat

Moch. Chariris • Senin, 31 Agustus 2020 | 03:00 WIB
ada-doa-yang-tersirat
ada-doa-yang-tersirat

Tabur kembang merupakan tradisi yang sudah ada sejak dahulu. Namun, hingga kini pelaksanaannya masih dipertahankan. Namun, di era modernisasi tradisi tersebut perlahan mengikis.


SEIRING berjalannya waktu, tradisi ini seakan luntur karena tergerus zaman. Sebab, di era globalisasi ini, sebagian besar pemikiran masyarakat telah berubah.


’’Meski tidak banyak, untuk tabur bunga di perempatan jalan sekarang masih ada,’’ ungkap Teguh Mulyono, warga Kota Mojokerto. Hampir setiap malam Jumat Legi dan Kamis Kliwon dia melihat taburan kembang setaman. Di dalamnya terdiri dari beberapa jenis bunga kerap dijumpai.


Yakni, mawar, melati, kantil, dan kenanga, sering ditemui di simpang empat Kelenteng Hok Sian Kiong Kota Mojokerto. Namun, dirinya tak tahu pasti keberadaan mereka yang masih percaya dan melestarikan peninggalan leluhur tersebut.


Yang jelas, saat dirinya melintas sekitar pukul 16.00 WIB untuk berangkat ke lapak penjualan yang tak jauh dari simpang empat itu, kembang setaman sudah terlihat berserakan di bahu jalan.


Keberadaan kembang itu tentu mengingatkan tentang cerita terdahulu selama ini, khususnya bagi orang Jawa. ’’Ada yang meyakini itu sebagai pengganti berziarah ke kuburan karena mungkin makam keluarga atau saudaranya berada di luar kota,’’ ungkapnya.


Tabur kembang itu juga kerap dijumpai di sejumlah simpang empat lainnya. Seperti di simpang empat Sekarsari (Jalan Empunala-Jalan Gajah Mada) dan simpang Tugu UKS Jalan Raya Jayanegara, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.


Meski tak ada aturan yang mengikat, dalam praktiknya, tabur kembang di jalan kerap dilakukan di waktu-waktu tertentu. ’’Biasanya jam 06.00 atau 12.00. Tapi, ada juga yang sore hari jelang surup (matahari terbenam),’’ tambah Mujiono warga Kelurahan Balongsari, Kelurahan Balongsari, Kota Mojokerto.


Kendati kerap mengetahui langsung, penabur bunga yang dijumpai sekadar beralasan untuk meneruskan tradisi orang-orang nenek moyang mereka. ’’Ngakunya juga untuk buang sial,’’ tuturnya.


Suyanto, warga lain juga tabur bunga di simpang jalan kerap diyakini orang-orang untuk membuang sial. Sial dalam artian banyak hal. Meliputi, orang itu sering terjadi kecelakaan, mereka yang sering jadi sasaran penganiayaan orang tanpa sebab. Atau bahkan mengalami mimpi buruk.


Sehingga ritual tabur kembang di jalan raya menjadi pilihan. Dengan harapan kejadian itu tidak terus terulang lagi. Sebaliknya untuk mimpi yang dianggap orang zaman sekarang adalah menjadi bunga tidur. Bagi yang masih kental dan percaya atas leluhur Jawa, justru dianggap sebagai isyarat.


’’Untuk menghindari peristiwa buruk jadi kenyataan, tabur bunga menjadi salah satu pilihan. Tapi, intinya di balik ini ada doa yang dipanjatkan,’’ tegasnya. Sebab, lanjut Suyanto, di bawah alam sadar manusia, kehidupan di alam lain itu memang benar adanya.


Tak sekadar menabur bunga, melainkan juga diiringi doa yang mensiratkan makna yang dalam. Denyut hati, pikiran hingga laku menjadi dasar para pelestari tradisi leluhur. ’’Banyak makna terselubung di dalamnya,’’ tuturnya.


’’Misalkan, Ya Tuhan, berilah keselamatan dan keberkahan pada keluarga anak turun kami. Hindarkan dari segala musibah yang selama ini terjadi. Termasuk siapapun yang melewati jalan ini. Baik manusia atau makhluk lainnya,’’ paparnya.


 

Editor : Moch. Chariris