KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dampak pandemi Covid-19 tidak hanya dirasakan masyarakat biasa. Anak yatim dan anak asuh yang dibina di Lembaga Kesejahteraan Sosial dan Anak (LKSA) pun nyatanya juga turut terdampak parah akibat masa pandemi yang tak kunjung berakhir.
Minimnya sumbangan atau donasi selama Ramadan dan Lebaran, membuat sejumlah yayasan panti asuhan anak yatim akibat dampak kumulatif yang ditimbulkan Covid-19.
Kondisi ini pun mau tak mau turut memengaruhi stabilitas keuangan yayasan sebagai tempat anak yatim ini berlindung. Tak jarang LKSA kebingungan hingga harus ngirit pengeluaran demi bisa mengatur keuangan dan mencukupi kebutuhan hidup anak yatim sehari-hari. Cara tersebut terpaksa dipilih setelah tidak ada lagi sumber pendapatan yang bisa diandalkan selama masa pandemi.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, pendapatan sebagian besar LKSA yang berasal dari donasi para dermawan telah mengalami penurunan drastis sejak Maret. Termasuk selama Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri kemarin yang justru merosot tajam jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tak tanggung-tanggung, penurunan donasi hingga 75 persen tak bisa dielakkan oleh sejumlah LKSA. Padahal, donasi yang terkumpul tersebut biasa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pasca Lebaran. Khususnya untuk tiga bulan ke depan yang biasa disebut sebagai bulan paceklik donasi oleh hampir semua lembaga panti asuhan anak yatim piatu.
’’Misalkan, pas Ramadan sebelumnya biasa mendapat sumbangan beras 10 ton, kemarin hanya dapat 3 ton. Atau misalkan pas tahun sebelumnya bisa mendapat total uang Rp 100 juta, kemarin hanya dapat Rp 25 juta. Padahal, dalam kamus yayasan panti asuhan, donasi yang didapat saat Ramadan, bisa dijadikan saving tiga bulan ke depan yang memang sudah terbiasa minim sumbangan,’’ ungkap pengasuh LKSA Abdulloh Latief, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Rois Muayyad Fahmi, kemarin.
Tidak hanya penurunan dari donatur minimnya sumbangan dari pemerintah juga cukup dirasakan 31 LKSA yang terdaftar. Bahkan, subsidi yang biasa dianggarkan Pemprov Jatim kini terpaksa dikurangi untuk penanganan Covid-19. Pun demikian sumbangan yang bisa diberikan Pemkab Mojokerto setiap Ramadan, juga tidak teranggarkan di tahun ini. Akibatnya, banyak LKSA yang terpaksa memulangkan anak asuh ke walinya masing-masing. Padahal, sebagian besar wali yatim nyatanya turut terdampak parah pandemi Covid-19.
Sehingga anak-anak yatim tersebut kembali lagi ke panti dengan situasi keuangan yang terbatas. ’’Memang ada yang memulangkan, tapi sebagian besar justru diminta bertahan di yayasan, karena wali mereka ternyata juga terdampak Covid-19 sangat parah,’’ tegasnya.
Sebanyak 31 LKSA se-Kabupaten Mojokerto sempat mengadukan persoalan mereka ke pemkab. Tujuannya, tak lain adalah agar kebutuhan anak yatim juga turut diperhatikan sebagai yang terdampak Covid-19. Sehingga langkah pengiritan kebutuhan operasional yang sudah dirasakan sejak April lalu bisa sedikit terbantu.
Dan kebutuhan hidup serta masa depan anak-anak yatim bisa tercukupi nantinya. ’’Sebenarnya kami sudah berkumpul dan mengadu ke sekdakab agar anak-anak yatim juga diperhatikan. Yang kami tekankan adalah soal nasib pendidikan mereka ke depan,’’ pungkas Rois.
Editor : Imron Arlado