Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sebatas Ngugemi Dawuh Kiai

Moch. Chariris • Jumat, 8 Mei 2020 | 18:00 WIB
sebatas-ngugemi-dawuh-kiai
sebatas-ngugemi-dawuh-kiai

TIDAK banyak yang tahu sosok di balik Muhammad Mukhidin. Belakangan dia sebatas dikenal sebagai pengasuh Vila Doa Yatim Sejahtera, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.


Di lembaga yang berada di bawah perbukitan dan hutan ini, Mukhidin kini menampung sekaligus merawat 75 orang. Terdiri atas anak balita dan lanjut usia. Tetapi, siapa sosok bapak tiga anak ini sebenarnya? Bagaimana proses Mukhidin ini mampu mengayomi Vila Doa hingga sampai saat ini? 


Ada ragam cerita dan kenangan yang membawa dia menuju jalan ilahi itu. Dari mulai merawat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), anak berkebutuhan khusus, hingga korban kasus narkoba.


Mukhidin menceritakan, pengalaman menjadi relawan pemulihan korban bencana bencana tsunami di Aceh selama dua tahun mengantar sekaligus menyakinkan dirinya untuk tetap berjalan bersama anak-anak dan orang-orang terlantar.


’’Dua tahun saya di Aceh. Di sana saya menjadi relawan untuk diperbantukan memulihkan Aceh bersama lainnya. Khususnya, pemulihan psikologi anak-anak korban bencana,’’ ujar suami Sutik ini kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.


Pengalaman dan kisah di Kota Serambi Makkah itu perlahan mengispirasi dirinya. Setiap hari menemui anak-anak yang kehilangan keluarga, orang tua, harta benda, dan segalanya. Namun, perlahan dampak bencana terhadap jiwa dan psikologi anak-anak korban tsunami ini mereda dan pulih.


’’Mereka membutuhkan pendampingan, dan perawatan. Intinya, bagaimana bisa membangkitkan semangat mereka membangun kehidupan kembali. Pada dasarnya mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Selain harapan dan masa depan,’’ terang pria kelahiran Jombang tahun 1980 tersebut.


Melihat kenyataan itu sempat membuat hati Mukhidin untuk bertahan. Akan tetapi nasib berubah ketiga menginjak tahun kedua di Aceh. Dia terpanggil untuk kembali pulang ke Mojokerto. tepatnya setelah banyak pihak yang membutuhkan kehadirannya kembali demi menjalankan misi sosial.


Seperti ngopeni (merawat) anak jalanan (anjal), korban kekerasan, korban narkoba, broken heart, hingga tidak memiliki tempat tinggal. ”Dulu kami sampai punya basecamp di Desa Kenanten, Kecamatan Puri. Di situ tempat kami menampung anak-anak jalanan,” imbuh ayah dari Abdun Jaisyullah Akbar, Suci Beauty Musi Balqies Suti Yatayumni, dan Qairani Izzatul Wafiroh ini.


Bukan saja di Mojokerto. Gerakan sosial ini sempat berkembang hingga menyentuh kota-kota besar. Seperti Surabaya, Malang, dan Tuban. ’’Karena kenakalan mereka, hampir setiap hari basecamp kami kehilangan karena dicuri. Yang masih bertahan waktu itu hanya rumah kontrakan dan mobil saja. Semua perabotan hilang. Termasuk pompa air,’’ tandasnya.


Namun, Mukhidin sadar, sehitam apa pun nasib dan perilakunya, mereka tetap membutuhkan perlindungan dan perhatian. Dari situ, anak pertama dari empat bersaudara pasangan Abdulloh danm Siti Kholifah ini meyakinkan hatinya untuk tetap mengabdi dalam gerakan sosial.


’’Alhamdulillah banyak yang membantu sampai sekarang. Termasuk kalangan aktivitas dan sesama relawan,’’ paparnya. Dia menuturkan, semangat dari sang guru KH Moh Abdullah Muchtar, pendiri Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA), Desa/Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, membuat langkahnya semakin yakin.


’’Dawuh (pesan) beliau kepada saya, tebar manfaat bagi semua manusia yang membutuhkan. Musuhnya hanya satu, syetan dalam dada,’’ terangnya mengingat. Dawuh menyimpan makna mendalam itu sangat diugemi (dipegang teguh) Mukhidin. Di mana, lanjut dia, kehidupan manusia memang harus seimbang.


Di dunia membutuhkan sandang, pangan, dan papan. Demikian pun di kehidupan selanjutnya. ’’Kalau kita miskin kekurangan di dunia, masih bisa minta bantuan yang lain. Tapi kalau miskin, kekurangan di akhirat sudah tidak ada lagi lemparan,’’ paparnya.


Pesan itu yang hingga saat ini terus diugemi Mukhidin. Di vila doa, dia sekarang harus merawat sekaligus mengasuh 75 orang dengan latar belakang berbeda.  Terdiri dari balita yatim duafa, anak berkebutuhan khusus, bahkan anak sedang berhadapan dengan hukum.


’’Apa yang saya lakoni (jalani) sekadar menjaga amanah guru, dan semoga tetap istikomah. Karena mereka bukan hanya membutuhkan pangan, sandang, dan papan, tapi juga perhatian. Terutama dari sisi spiritual,’’ tandasnya. (abi)


 


 


 



 

Editor : Moch. Chariris