MOJOANYAR, Jawa Pos Radar Mojokerto - Hujan deras dalam waktu lama diprediksi masih akan terjadi hingga akhir April mendatang. Kondisi itu membuat masyarakat dituntut waspada akan potensi bencana alam. Utamanya banjir dan longsor yang belakangan masih sering terjadi. Baik di wilayah selatan Kabupaten Mojokerto yang memiliki geografis perbukitan maupun wilayah bawah notabene menjadi langganan banjir.
Cuaca ekstrem saat ini tidak hanya terjadi di Mojokerto, melainkan merata di wilayah Jawa Timur (Jatim). Terbukti intensitas hujan masih saja terjadi. Seiring dengan itu elevasi permukaan air Sungai Brantas pun mengikuti. Bahkan, terjadi peningkatan yang cukup tajam. "Secara signifikan, peningkatan air di Brantas sudah terjadi satu minggu lebih," ungkap Hasan, warga Mojoanyar di lokasi kemarin.
Sistem buka tutup pintu air di Dam Rolak Songo sebagai pengatur air menuju Kali Porong diberlakukan Perum Jasa Tirta I, di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar. Petugas juga harus membuka semua pintu seiring derasnya debit sungai. Di Rolak Songo, permukaan air menyentuh angka 17,84 maksimum air tinggi (MAT). Sutuasi ini tentu berbanding terbalik saat musim kemarau atau di awal musim hujan lalu. "Jadi, mau tidak mau, delapan pintu dam dibuka semua," tandasnya.
Meningkatnya debit Sungai Brantas memang tak lepas dari tingginya curah hujan yang terjadi secara merata di Jatim. Mulai Malang, Blitar, Batu, Kediri, Tulungagung, Jombang yang menjadi hulu Sungai Brantas. Termasuk Mojokerto yang sebagai lintasan sungai besar yang membelah wilayah Jatim ini. "Tapi, kalau debit normal, paling hanya dua atau tiga pintu dam saja yang dibuka," tegasnya. Jika semua pintu Dam Rolak Songo dibuka semua, berbeda lagi untuk Dam Rolak Tiga Mlirip, Jetis. Dam yang menjadi pengatur air yang mengarah ke Sungai Mas itu justru ditutup total.
Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini menegaskan, peningkatan debit Sungai Brantas sebenarnya hal yang wajar. Hal itu seiring intensitas hujan yang terjadi di semua daerah sebagai hulu sungai. "Peningkatan debit air sebenarnya terjadi merata di semua aliran sungai. Seperti Watudakon, Kromong, Lamong, dan sungai lainnya" ungkapnya.
Dari data yang ada, elevasi air di Sungai Brantas masih dalam batas normal. Yakni, 17,84 dengan maksimum 18,00 Meter. Sedangkan untuk debit air saat ini 500 meter kubik per detik. "Sehingga masih normal ambang batas maksimum dari 1.000 kubik per detik," jelasnya. Kendati demikian, BPBD, terus melakukan pemantauan di wilayah rawan bencana. Baik banjir maupun longsor. Apalagi, sesuai dengan parkiraan Badan Meteologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Surabaya, cuaca ekstrem masih terjadi hingga April. Untuk itu, sesuai SK bupati, status siaga bencana pun diterapkan. "Sampai detik ini, tim reaksi cepat juga stand by 24 jam," pungkas Zaini.
Editor : Imron Arlado