Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kampung di Mojokerto Ini Langganan Banjir sejak 1972

Imron Arlado • Kamis, 2 Januari 2020 | 16:00 WIB
kampung-di-mojokerto-ini-langganan-banjir-sejak-1972
kampung-di-mojokerto-ini-langganan-banjir-sejak-1972

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pergantian tahun baru 2020 nyatanya tak membuat masyarakat yang tinggal di sekitar Kali Lamong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, terbebas dari banjir. Bagaimana tidak, selama musim penghujan ini, lagi-lagi ancaman bencana banjir menghantui wilayah permukiman mereka.


Seperti di Dusun Balong, Desa Banyulegi. Setidaknya, ada lima KK (kepala keluarga) dari 12 rumah yang tergenang sempat dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Selain agar tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan, akibat bencana banjir, rumah mereka sudah terendam air.


’’Sekitar pukul 06.00 pagi, luapan Kali Lamong telah menggenangi permukiman warga di dua desa,’’ ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini, kemarin. Ketinggiannya relatif berbeda. Di Dusun Balong, misalnya. Ketinggian air mencapai 50 cm atau setinggi lutut. Imbasnya, selain aktivitas warga sempat lumpuh, terdapat 12 rumah yang tergenang. ’’Lima keluarga juga terpaksa harus dievakuasi ke tempat lebih aman,’’ tegasnya.


Banjir di awal tahun ini juga menimpa Dusun Klanting, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong. Derasnya air akibat hujan deras yang terjadi hampir merata di hulu sampai hilir Kali Lamong membuat tujuh rumah di Dusun Klanting juga tergenang. Namun, di dusun ini, ketinggian air tak separah di Dusun Balong. ’’Ketinggian air hanya sekitar 30 cm untuk di dalam rumah warga,’’ ujarnya.


Sebaliknya, genangan air yang ada di jalan raya hanya sekitar 20 cm. Sehingga, situasi ini tak membuat para pemilik rumah mengungsi, seperti di dusun sebelah. Apalagi, tren air juga surut meski lambat. ’’Tapi, pantauan terakhir sekitar pukul 10.00 air yang menggenangi rumah warga dan jalan kampung sudah surut total,’’ tegasnya. Menurutnya, sejumlah desa yang berdekatan dengan Kali Lamong memang masih rawan banjir. Sebab, sungai tersebut adalah anak Sungai Bengawan Solo.


Sehingga, kendati wilayah Dawarbandong sedang tidak turun hujan, namun debit ait meningkat akibat hujan deras di wilayah hulu, bukan tidak mungkin luapan sungai membanjiri permukiman warga. ’’Itu yang pertama. Itu juga masuk kewenangan Balai besar Wilayah Sungai Solo,’’ tegasnya.


Kedua, faktor meluapnya Sungai Lamong tak lain karena belum tersentuh normalisasi. Bahkan, pengerukan sindimen belum dilakukan. Kondisi itu membuat kondisi sungai kian dangkal dan menyempit. Bahkan, terbilang tidak ada tanggul sama sekali. ’’Solusinya, memang harus ada normalisasi dan perbaikan tanggul,’’ tandasnya.


Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, sejak tahun 1972 desa tersebut sudah menjadi langganan banjir. Hanya saja, banjir saat itu belum masuk ke dalam rumah warga. Hanya sebatas di area rerimbunan bambu belakang rumah. Namun, lambat tahun, Sungai Lamong yang kian dangkal membuat luapan air kian parah. Derasnya air merendam persawahan hingga permukiman warga. Baru, di 2008 banjir mulai masuk rumah warga.


Sejak tahun itu, setiap datang musim hujan desa tersebut tak pernah lepas dari ancaman banjir. Jika di rata-rata setiap tahun tercatat terjadi 17 kali terjadi.

Editor : Imron Arlado
#banjir mojokerto