MOJOKERTO – Kalangan dewan menyebutkan tren penyakit demam berdarah tak lepas dari siklus lima tahunan penyakit khas daerah tropis.
Untuk itu, dewan mendorong peningkatan layanan fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Itu diketahui kalangan Komisi III DPRD Kota Mojokerto setelah melakukan sidak ke sejumlah tempat fasilitas kesehatan.
Mulai puskesmas hingga RSU dr. Wahidin Sudiro Husodo. Fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti di Puskesmas Kedundung, Puskesmas Wates, Puskesmas Mentikan, Puskesmas Blooto, dan Puskesmas Kranggan.
Di puskesmas rawat inap, terdapat pasien DB dan DBD. Di antaranya telah memasuki masa pemulihan. Ada pula pasien berpenyakit serupa dirujuk ke RSU dr. Wahidin Sudiro Husodo. Seperti pasien asal Puskesmas Kranggan.
Pasien DB dan DBD yang masa pemulihan ada di Puskesmas Blooto. Di antaranya hasil rujukan dari Puskesmas Mentikan. Selain itu, pasien dari Puskesmas Mentikan juga dirujuk ke RSU. ’’Di RSUD ada 15 pasien,’’ ungkap Cholid Virdaus, wakil ketua Komisi III DPRD Kota Mojokerto, kemarin.
Ia mengatakan, rata-rata pasien DB, DBD, maupun syndrome dengue sudah menjalani masa rawat inap selama 7 hari hingga 9 hari. Sebagian juga persiapan pulang lantaran kondisi telah membaik. Pelayanan dianggap baik lantaran ada perbaikan pengadministrasian pasien di tiap unit.
’’Semisal ketika kita minta data pasien DBD bisa langsung terlihat. Tidak lantas cari-cari,’’ kata dia. Hanya saja, pada rumah sakit milik pemkot itu terjadi overload pada layanan rawat inap. Sedang, di UGD mengalami keterbatasan bed.
’’Untuk itu, kami dorong agar ada penambahan bed di UGD. Dan sudah diupayakan. Kendati untuk rawat inap di RSUD masih overload,’’ tambah Anang Wahyudi, anggota Komisi III lainnya. Selama dua hari terakhir ini, Komisi III melakukan pemantauan langsung di fasilitas kesehatan.
Seperti puskesmas dan RSU. Dan, hasilnya penyakit demam berdarah memang masih mendominasi rawat inap di lokasi. ’’Perlu peningkatan pelayanan di puskesmas apalagi sekarang ini masa puncak siklus 5 tahunan (DB dan DBD),’’ ujar Cholid.
Berdasarkan temuan, pihaknya merekomendasikan pemenuhan tenaga medis baik perawat maupun dokter. Kemudian, segera penunjukan secepatnya pimpinan puskesmas. Seperti di Kranggan dan Mentikan.
’’Peningkatan sarana prasaran seperti di Puskesmas Kranggan itu juga perlu. Apalagi, kunjungan pasiennya per hari 50 orang hingga 60 orang. Itu pun dikawal 7 personel puskesmas,’’ sebutnya. Di samping itu, perlu percepatan rehabilitasi tingkat sedang di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Blooto dan Kedundung.
Mengingat, kapitasi di dua faskes itu tembus 50 ribu lebih. ’’Di samping itu diperlukan juga penguatan manajemen dan tata kelola puskesmas. Sehingga, sejak dari faskes pertama, pasien sudah ter-manage dengan baik,’’ saran Cholid.
Editor : Moch. Chariris