PERAHU itu telah mati, demikian kata ibunya ketika ia bertanya mengapa hari ini tempat tinggalnya begitu murung. Ia yang masih bocah merasakan kepedihan yang melesak- lesak setelah mendengar kabar itu. Kedua alisnya mengerut getir.
Ia ingat akan bapaknya. Ingat akan lautnya. Ikan-ikan. Ombak. Aroma asin dan matahari yang terang benderang dan kaki-kaki kecil yang berlari memasaikan pasir pantai yang licin dan kelam.
’’Jadi Bapak nggak bisa melaut lagi, Mak? Nggak bisa cari ikan lagi? Aku juga nggak bisa ikut Bapak lagi ke laut?”
Pertanyaan-pertanyaan mencelat begitu saja dari bibirnya yang kering itu, tapi ibunya mendadak menjelma sebongkah karang. Perempuan itu bergeming dari depan tungku kayu bakar yang menjilat-jilat pantat hitam sebuah panci air. Uap panas menguasai dapur bobrok itu, yang bercampur dengan aroma amis ikan asin pedha yang menggantung pasrah di bagian sudut.
Bocah itu menekuni punggung ibunya dalam kesenyapan yang tercipta antara mereka. Punggung itu terlihat letih dan sedih. Di saat-saat seperti ini, ibunya itu pasti menitikkan air mata, dan itu pasti bukan karena asap tungku yang kurang ajar. Ia tahu itu. Kemurungan rumahnya dan kebisuan ibunya pasti dikarenakan kematian perahu itu.
Perahu itu memang bukan milik bapaknya. Perahu itu milik Juragan Jodet, lelaki tinggi hitam dengan jerawat menahun di bagian hidung dan perut buncit yang
mengkhawatirkan. Juragan Jodet adalah raja. Ia adalah hukum yang berlaku di desa nelayan itu. Apapun yang diujar lelaki itu adalah sebuah keharusan.
Hampir semua nelayan meminjam perahu dari Juragan Jodet, atau berhutang uang untuk keperluan melaut dan keseharian, dengan kesepakatan pahit yang mengharuskan para nelayan itu menjual hasil tangkapan mereka padanya.
Tentu saja dengan harga yang semena-mena. Walau demikian, sistem jual beli itu tidak mampu mengurangi sedikit pun hutang-hutang mereka yang semakin hari semakin mencekik perut dan leher. Dan tidak terkecuali bapaknya yang menyedihkan itu.
Sepuluh hari yang lalu, tanpa sengaja ia telah mendengar keluh bapaknya. Mungkin aku akan berhenti melaut saja, ucap bapaknya itu. Ketika itu tubuh siang tidak terlalu menyengat. Ia tengah berada di ruang depan rumahnya, membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Sementara ibu dan bapaknya tengah terduduk di teras depan, di atas sebuah dipan bambu yang telah menua dan kusam. Mereka bertiga hanya dibatasi dengan dinding kayu triplek, hal yang membuat dirinya begitu mudah dan khusyuk mendengar semua pembicaraan kedua orang tua itu.
’’Kalau Bapak berhenti melaut, terus mau kerja jadi apa? Terus utang-utang kita pada Juragan itu mau dibayar pakai apa?” tanya ibunya, yang terdengar sedikit kesal dan kecewa.
’’Nggak tahu, Bu. Bapak sudah letih ikut sama Juragan. Apalagi, Ibu ya tahu sendiri, laut lagi sepi. Nggak ada ikan. Bapak dapatnya ya itu-itu saja. Bagaimana Bapak bisa melunasi semua? Tujuh turunan pun nggak bakal bisa, Bu.”
’’Tapi kita ini kan wong cilik, Pak. Sudah nggak bisa ngapa-ngapain selain berjalan di jalur yang sudah ditentukan orang besar. Kita kudu lebih legowo, dan sabar.” Kesenyapan menjadi hal yang ia dengar setelah ucapan ibunya itu. Ada helaan napas berat yang terembus. Juga keputusasaan.
Siang itu, ia berpikir, semua ucapan bapaknya hanyalah sebatas igauan lelah seorang nelayan miskin dengan beban berat di pundaknya, lalu keesokan harinya, bapaknya itu akan kembali baik-baik saja dan tetap mencari ikan. Ia sama sekali tidak memikirkan, jika pada akhirnya, perahu itu akan mati.
Bicara perihal kematian, ia pernah mendengar dari neneknya. Perempuan tua itu senang sekali mendongeng, sebelum pada akhirnya ia tertidur di dalam tanah. Dongeng tentang kematian membuatnya ketakutan ketika itu.
Neneknya berkata, kematian hanyalah sebuah pintu, berdinding emas dan berkilauan jika kita memiliki amal kebaikan semasa hidup, atau gelap dan dingin dan penuh siksaan-siksaan jika kita kerap berbuat keburukan.
Di hari ketika neneknya mati, ia meraung-raung dan bersikeras ingin menemani neneknya di dalam tanah. Ia khawatir nenek kesayangannya itu berada pada pintu yang gelap. Dan dingin. Dan penuh siksaan-siksaan.
Ia takut Tuhan menghukum neneknya, karena pada suatu ketika, sebelum neneknya itu meninggal, ia melihat neneknya itu memukul seekor kucing betina dengan puting susu bergelantungan, yang mencuri ikan asin yang terjemur di belakang rumah, lalu memaki-maki kucing itu dengan sumpah serapah yang menyeramkan. Bukankah dalam kematian setiap yang mati akan mendapatkan sebuah balasan?
Ia akhirnya memutuskan untuk melepaskan tatapan matanya pada punggung ibunya yang masih murung itu. Ia lesat menuju pantai. Terengah-engah. Ia tidak menghiraukan panggilan beberapa temannya ketika bersua di sebuah tanah lapang.
Ia terus berlari, menebas pagi yang masih begitu muda dan anak-anak angin yang sedikit bercanda dengan rambutnya yang kaku. Di dalam pikirannya yang bocah, ia hanya mengisinya tentang perahu itu. Perahu itu adalah sebuah kebanggaan.
Sebuah detak jantung. Bapaknya terlihat berkilauan setiap kali menunggangi perahu itu di atas laut yang bergejolak. Terlihat gagah. Dan perkasa. Diam-diam, ia menyematkan keinginan untuk menjadi seorang nelayan tangguh seperti bapaknya.
Ia ingin bertarung melawan badai laut yang paling tangguh. Ingin melempar jaring dengan dada membusung, dan menariknya kuat-kuat, lalu ikan-ikan terjebak kalang-kabut di dalam sana, dan ia pulang dengan penuh kebanggaan. Tapi jika tanpa perahu itu, bagaimana ia bisa menjadi seorang nelayan?
Perahu itu berwarna biru tua. Seperti rahim laut. Ada garis putih yang mengelilingi bangian tepi atasnya. Selayaknya awan-awan yang menaungi lautan. Ia dan bapaknya yang berlomba-lomba menghias perahu itu, dua tahun lalu. Dan perahu itu masih setangguh karang. Tidak mungkin perahu itu bisa mati begitu saja.
Ia masih terus berlari dan tidak sedikit pun mengurangi niatannya hanya untuk sekadar berhenti, walau sesak di dadanya sudah memukul-mukul dan napasnya tercungap. Hingga akhirnya, ia sampai di dermaga, tempat nelayan-nelayan di kampungnya melabuhkan perahu. Aroma tubuh laut menyapa cuping hidungnya.
Ia berhenti sejenak, menelanjangi tempat itu. Di sana, di ujung timur dermaga, ia melihat segerombolan nelayan—kawan-kawan bapaknya—tengah berkasyak-kusyuk mengerumuni sesuatu. Wajah-wajah penuh kecemasan dan menyesali sesuatu. Ia lesat kembalidan mempercepat laju kaki-kakinya, menyeruak di antara gerombolan. Lalu seketika, ia terhenti. Diam tak berkutik.
Ibunya berkata benar. Perahu itu telah mati. Dia terkapar diam di bibir pantai. Hitam legam. Bau arang menyembul sempurna dari tubuhnya yang hangus terbakar. Abu-abu hitam melayang-layang penuh kedamaian di udara. Sebagian telah ranap di atas pasir pantai yang melegam. Sebagian tersangkut di rambut para pelancong yang mengerumuni sejak tadi. Dan di antara kesemuanya, ia melihat bapaknya. Terduduk lesu di samping jasad perahu itu dengan kepala tertunduk dan tangan yang menggenggam sebotol minuman keras yang telah kosong. Tubuh bapaknya bergemetar. Terisak lirih.
Seketika, ia yang masih bocah itu, merasai kepedihan orang dewasa yang tidak berdaya pada sebuah keadaan dan keputusasaan.
***
Ia mendekap kaleng kerkarat itu dan berjalan pulang. Terik menghatam kepalanya tanpa ampun. Ia merasa sedikit sakit kepala akibat seharian mencari kerang-kerang itu di tepi pantai, tapi dadanya tidak lelah. Dadanya berdentum-dentum bahagia. Ia ingin segera cepat sampai ke rumahnya dan menunjukkan kerang-kerang itu pada Ibu.
Sepuluh hari telah berlalu semenjak hari di mana bapaknya membakar perahu itu. Juragan Jodet, beserta dua polisi berseragam, datang menggedor pintu rumahnya dan menyeret bapaknya keluar. Bapaknya tertunduk dan pasrah, sementara ibunya masih saja bisu di depan tungku dan menenggelamkan diri dalam asap-asap yang mengepul.
Ibunya tidak sedikit pun menitikkan air mata, atau meraung-raung seperti dirinya yang terus menggandoli kaki bapaknya ketika hendak dimasukkan ke dalam mobil. Orang-orang berkerumun dan berbisik di depan rumahnya, tapi ia tidak peduli akan hal itu.
Ia terus menangis, berteriak meminta ampun pada Juragan Jodet agar mau melepaskan bapaknya. Tapi sekeras apapun ia berusaha, seorang bocah sepuluh tahun tidak akan mampu menjinakkan kemarahan orang dewasa.
Semenjak hari itu, ia dan ibunya menjadi pendiam. Terlebih-lebih ibunya yang mulai lupa pada segala hal. Hingga suatu waktu, ia teringat akan dongeng neneknya, tentang kerang-kerang surga. Ia menjadi terbinar. Benih-benih harapan muncul di kedua bola matanya yang lugu.
Pintu rumahnya tertutup rapat ketika ia telah sampai. Ia mengetuk pintu itu, memanggil ibunya, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ia memutuskan untuk memutar saja, melewati pekarangan lusuh yang ditumbuhi pohon-pohon pisang. Ibunya masih ada di dalam dapur, seperti biasanya. Perempuan itu tidak sedikit pun meninggalkan tungku kayu bakarnya.
Asap tebal mengepung penglihatannya ketika ia tiba. Ia sedikit terbatuk-batuk. ’’Mak! Lihat, Mak. Aku nemu kerang itu!” serunya seraya mendekati ibunya. Ia mengguncang-ngguncang bahu ibunya, tapi sedikit pun perempuan itu tidak menoleh kepadanya. Walau demikian, ia tidak merasa sedih lagi. Ia telah memiliki kerang-kerang itu, kerang-kerang surga.
’’Mak, lihat!” Ia mengambil beberapa kerang dalam genggaman, dan menunjukkannya pada Ibu. ’’Kerang surga pasti akan memberikan kita perahu, dan Bapak pasti bisa cari ikan lagi, Mak. Mak jangan sedih, ya. Aku pasti akan membantu Bapak,” ujarnya kembali. Kali ini, tangan-tangan mungil itu merengkuh erat tubuh ibunya yang mulai mengering dan berbau asap kayu.
Bola matanya berkaca-kaca. Ia sudah tidak sabar ingin mengucap permohonan pada kerang-kerang itu. Nanti, ketika bulan pucat bersinar paling terang dan paling sayup. (*)
*Oleh Ajeng Maharani.
Perempuan penikmat sastra yang lahir di Surabaya. Buku kumpulan cerpennya: Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan (Penerbit Basabasi – 2017).
Editor : Moch. Chariris