WAJAH manis nan imut itu cukup banyak bertebaran di arena musik khususnya dangdut Jawa Timuran. Tidak hanya di Mojokerto, ABG asli Dusun Patung, Desa/Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto ini, bahkan cukup terkenal hingga luar jawa Timur.
Sesekali pula ia muncul di stasiun televisi swasta bersama para seniornya yang telah berkibar lebih dulu. Meski di usia yang sangat muda, remaja kelahiran 12 Januari 2004 ini tampak tak canggung lagi dalam mendendangkan lagu-lagu dangdut koplo populer masa kini hingga menuai banyak penggemar.
Itulah Jihan Audy, penyanyi dangdut yang tengah beken setahun belakangan. Sebagai remaja asli Mojokerto, ABG yang bernama lengkap Jihan Audylia Arinde Silva itu cukup mewakili sebagai pemuda inspiratif versi pilihan Jawa Pos Radar Mojokerto.
Pilihan tersebut tak lepas dari karirnya yang melejit di usia yang sangat muda, yakni 14 tahun. Usia yang masih cukup belia di antara para pedangdut lainnya yang berkisar di angka 20 tahun ke atas. Meski sangat muda, namun bakat seni Jihan bisa dibilang melebihi seniornya.
Terbukti, baru setahun ngetop, Jihan sudah memiliki penggemar idola. Jylo (Jihan Audy Lovers), terbentuk dan terinspirasi dari suara serta wajah manis Jihan yang berkarakter. Suara halus dengan cengkok mendayu-dayu cukup menjadi dasar para penggemarnya untuk tidak sedetik pun melewatkan kiprahnya.
Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun jumlah viewer serta followers-nya tak kalah dengan artis beken nasional. Di youtube misalnya, rata-rata jumlah viewer-nya bisa mencapai 600 ribu sampai 2 juta. Belum akun instagram-nya dengan nama akun @jihanaudy123_real yang sudah mencapai 437 ribu follower.
Itulah mengapa Jihan pantas dijuluki dengan artis muda naik daun. Lebih-lebih karirnya juga dinilai mampu melebihi pedangdut yang telah tenar lebih dulu, seperti Tasya Rosmala, Rena KDI, Ratna Antika, Wiwik Sagita dan lain sebagainya.
Pastinya penilaian itu jika diukur dari waktu merintis karir mulai awal sampai sekarang. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada tantangan serius yang dihadapi Jihan selama kegiatannya bermusik. Selain harus menjaga mutu suara, Jihan juga dituntut mampu tampil profesional di setiap acara yang dikunjungi.
Tak jarang ia juga harus mengorbankan kondisi fisiknya yang nge-drop seperti saat mengalami kecelakaan di jalur pantura depan Pantai Bentar, Curahsawi, Gending, Probolinggo, Selasa (6/2) lalu. ’’Ya memang kita harus profesional semaksimal mungkin. Jangan sampai ada omongan sombong dari orang atas penampilan kita. Yang pasti kita harus bisa memacu diri tampil lebih baik dari sebelum-sebelumnya,’’ terangnya.
Meski kini telah tenar, bukan berarti Jihan melupakan bagaimana pahitnya perjalanannya saat mengawali karir bermusik. Saat itu, ia baru kelas 3 SD tapi sudah berani tampil di muka umum, seperti di acara hajatan atau pun lomba karaoke tingkat kabupaten hingga Provinsi Jawa Timur.
Namun, keberanian terkadang harus ia terima dengan bayaran minim. Bahkan, nominal fee yang ia terima saat itu bisa hanya Rp 25 ribu untuk sekali tampil dengan 5 sampai 6 lagu. Sebuah perjalanan jomplang jika dibandingkan dengan pendapatannya saat ini yang bisa mencapai Rp 10 sampai 15 juta untuk sekali manggung.
’’Ya ketenaran saat ini pasti ada manis dan pahitnya. Bagi saya, yang penting harus tetap istiqamah, sabar, selalu belajar dan disiplin. Karena yang kita dapatkan saat ini adalah buah dari kepahitan yang sudah kita lalui dulu,’’ ungkapnya.
Ya, Jihan memang tidak bisa melupakan begitu saja kisah pahitnya. Sebab, kisah tersebut justru dapat menjadi pelecut dirinya untuk bisa tampil lebih baik lagi. Bahkan, dirinya tak canggung untuk bisa bersaing bersama senior-seniornya.
Khususnya dalam hal bermusik dangdut untuk bisa menghibur penggemar dan penonton. Namun, persaingan itu bukan untuk saling menghancurkan satu sama lain, melainkan saling berpacu untuk bisa bernyanyi sesuai karakter suara masing-masing.
Meski bersaing, Jihan juga tak jaim untuk saling sharing bersama pedangdut senior. Sebab, dilihat dari segi pengalaman dan jam terbang, Jihan mengakui kalah. Hal ini yang ia sadari sebagai kekurangan yang tidak bisa dielakkan sehingga butuh banyak masukan.
’’Karena setiap penyanyi senior kan punya strategi marketing sendiri-sendiri. Itu yang harus kita serap, jangan jaim untuk minta masukan dan kritikan,’’ imbuhnya. Jihan juga mengaku keseriusannya menggeluti dunia dangdut sempat membuat pendidikannya sedikit terganggu.
Sehingga ia memutuskan untuk pindah ke sekolah eksklusif home schooling dari SMPN 1 Mojosari sebagai sekolah regular sebelumnya. Namun lagi-lagi Jihan menegaskan kepada semua pemuda khususnya di Mojokerto untuk tidak melupakan pendidikan.
Sebab, modal dalam menggapai cita-cita salah satunya adalah dengan giat sekolah. ’’Ya tekuni apa yang sudah menjadi kewajiban kita apa pun kondisinya,’’ pungkasnya.
Editor : Moch. Chariris