Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Trawas Trashoin Carnival, Media Kampanye Lingkungan

Moch. Chariris • Kamis, 15 Maret 2018 | 04:50 WIB
trawas-trashoin-carnival-media-kampanye-lingkungan
trawas-trashoin-carnival-media-kampanye-lingkungan



TRAWAS merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang memiliki potensi sunber daya alam (SDA) melimpah. Wilayah berada di lereng Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang itu juga menjadi salah satu destinasi wisata.


Kini, Trawas juga memiliki ikon baru yang mampu menyedot datangnya wisatawan, yakni Trawas Trashoin Carnival (TTC). TTC adalah sebuah event karnaval busana yang digelar setiap tahun. Helatan tersebut merupakam gagasan dari para pemuda Trawas. Salah satunya adalah Tri Mulyono.


Pria berusia 27 tahun ini menceritakan, terbentuknya TTC berawal dari event Gebyar Malam Tahun Baru yang dilaksanakan rutin dalam menyambut pergantian tahun baru di Trawas. Sebuah acara yang menampilkan berbagai kesenian dan budaya itu selalu tidak pernah sepi dari perhatian warga. ”Waktu itu, kita ditantang untuk mengadakan kegiatan baru sebagai tontonan tahun baru,” ujarnya.


Sehingga, pada 2014 tercetuslah ide untuk menambahkan karnaval busana yang diberi nama Trawas Trashion Carnival. Sebuah parade busana yang menampilkan berbagai kostum dan dibawakan oleh model. Dengan dukungan tata rias, jalan raya pun dijadikan media catwalk untuk memamerkan kostum. ”Saat itu, kita belum tahu cara membuat kostum carnival itu bahannya apa dan bagaimana teknik pengerjaannya,” terang pria yang akrab disapa Trimul ini.


Sehingga, dia dan teman-temannya belajar secara otodidak dengan melihat contoh kostum karnaval di internet maupun media sosial (medsos) Instagram. ”Kebetulan tidak ada yang memiliki latar belakang di bidang fashion,” paparnya.


Sesuai dengan namanya, bahan-bahan yang digunakan pun didapat dari bahan daur ulang sampah, ”Awalnya, kostum kita bikin dari bahan bekas semua, tapi kita buat semeriah mungkin,” cetusnya,


Dalam waktu sekitar empat bulan, mereka akhirnya mampu membuat sekitar 45 kostum untuk ditampilkan perdana pada akhir tahun 2014 lalu. Trimul mengatakan, sebagian besar bahan baku tersebut didapat dari bank sampah. Selain itu, masing-masing peserta juga memanfaatkan bahan bekas yang ada di rumahnya masing-masing. ”Macam-macam. Mulai dari kardus, gelas, botol, kertas, dan bahan daur ulang lainnya,” tambah pria yang didapuk sebagai ketua TTC ini.


Tak disangka, penampilan fashion carnival yang kali pertama diselenggarakan tersebut mendapat apresiasi yang cukup hangat bagi masyarakat. Oleh sebab itu, TTC diagendakan rutin setiap tahun hingga sekarang. Kali ini, TTC menjadi event yang dijadwalkan di bulan Agustus dalam karnaval memperingati HUT Kemerdekaan RI.


Kendati demikian, kostum yang ditampilkan perdana dirasa masih belum sempurna. Sehingga, Trimul berkeinginan membuat seperti kostum yang ditampilkan dalam event Jember Fashion Carnival (JFC). Mulai dari teknik, konsep, dan bahan.


Sejak 2016, dia selalu berangkat ke Jember untuk menghadiri event JFC. Kedatangannya ke kota karnaval itu tak lain adalah untuk menyaksikan langsung pentas JFC. Tak jarang, dia juga menimba ilmu dari beberapa desainer fashion carnival yang berkaliber internasional itu.


Seperti halnya di Jember, setiap tahunnya TTC juga mengangkat defile atau sub tema yang berbeda. Menurut Trimul, setiap gelaran event terdapat tiga sub tema. Masing-masing adalah tema lokal, nasional, dan internasional.


Seperti yang bakal dia lakukan. Pria kelahiran 1 April 1990 ini mengaku tema lokal yang diangkat tahun 2018 ini adalah tentang kopi. Mengingat, Trawas adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang menjadi daerah penghasil biji kopi.


Sedangkan tema nasionalnya tentang Merah Putih. Pasalnya, tahun ini merupakan tahun politik karena diselenggarakannya pilkada serentak di berbagai wilayah. ”Meski pilihannya berbeda, tapi kita berharap masyarakat tetap bersatu di bawah Merah Putih,” ujarnya.


Sedangkan tema internasional yang diangkat adalah tentang Mesir. Mulai dari budaya, arsitektur, pakaian, hingga sejarah keberadaban bangsa Mesir kuno. Kendati demikian, TTC tetap berkomitmen tidak meninggalkan bahan bekas sebagai bahan baku pembuatan kostum.


Mengingat, selain sebagai media penyaluran bakan dan kreatifitas di bidang fashion, TTC juga diharapkan menjadi wadah untuk berkampanya peduli lingkungan.


Salah satu caranya adalah pengelolaan sampah yang bisa dimanfaatkan menjadi bahan daur ulang. ”Sampah bisa bernilai jika dimanfaatkan sebaik mungkin. Untuk pembuatan kostum ini hanya sebagian kecilnya saja.


Masih banyak lagi yang bisa menjadi berkah dari sampah,” cetusnya. Selain itu, pemanfaatan bahan bekas juga bertujuan agar peserta tidak kesulitan mencari bahan.


Sehingga, pembuatan kostum bisa mencari bahan-bahan yang tidak terpakai di sekitar rumahnya. Terlebih, TTC terbuka bagi siapa pun yang ingin menampilkan kreasinya. Khusunya kalangan pelajar.


”Bahan daur ulang akan tetap kami pertahankan. Agar bagi anak-anak bisa terjangkau karena tidak harus beli. Tinggal bagaimana mengolah biar menjadi kostum yang menarik,” celetuknya.


Ke depan, dia berharap TTC tidak hanya menjadi event di tingat Kecamatan Trawas saja. Melainkan, mampu menjadi gelaran tahunan se-Kabupaten Mojokerto. Harapan itu tentu masih terbuka lebar.


Mengingat, saat ini peserta TTC juga diikuti delegasi dari luar Kecamatan Trawas. ”Kami ingin TTC tidak hanya dinikmati di Trawas saja. Tetapi, peserta dari semua kecamatan di Kabupaten Mojokerto biar ikut meramaikan,” pungkasnya.

Editor : Moch. Chariris