MOJOKERTO - Pasca temuan bayi berjenis kelamin laki-laki, Polres Mojokerto langsung melakukan olah tempat kejadian perkara di Masjid Baiturahman, Dusun Ketangi, Desa ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (14/1) siang.
Olah tempat kejadian perkara tersebut dipimpin Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery. Berdasar hasil penyelidikan sementara, petugas mulai menemukan titik terang soal siapa di balik pelaku pembuangan bayi di mihrab masjid tersebut.
"Sesaat sebelum bayi ditemukan, ada saksi yang melihat sepasang laki-laki dan perempuan masuk ke masjid, kemudian keluar lagi," kata Fery. Dia menjelaskan, dua orang diduga sebagai pelaku pembuangan bayi itu datang ke masjid mengendarai motor.
Keduanya memarkir kendaraan di halaman masjid lalu masuk melalui pintu samping kanan masjid. Kuat dugaan, pasangan ini datang dengan membawa bayi laki-laki yang kemudian ditaruhnya di mihrab (ruang imam) masjid. Kemudian meninggalkan masjid begitu saja. "Seperti penemuan awal, bayi berada di tempat imam," paparnya.
Temuan bayi terlahir dalam keadaan fitrah (suci) ini kali pertama diketahui Karnadi, muadzin masjid sekitar pukul 11.55. Saat itu, dia datang ke masjid hendak mengumandangkan azan salat Duhur. Namun, mata dan hatinya terhentak begitu melihat sesosok bayi tergeletak persis berada di ruang mihrab. ”Posisi bayinya tidur terlentang,” kata Karnadi.
Melihat bayi belum diketahui siapa sesungguhnya orang tuanya itu, dia menunda mengumandang azan dan memilih menolong sang bayi. ”Kondisi bayi mengenakan baju dan selembar kain selimut,” paparnya.
Temuan ini dalam waktu sekejap langsung membuat umek. Tidak hanya pengurus takmir masjid dan calon jamaah salat, warga setempat pun berdatangan untuk melihat langsung kondisi sang bayi. Khawatir terjadi apa-apa, mereka memilih melapor ke Polsek Dlanggu, dan membawa bayi ke Puskesmas Dlanggu untuk mendapat perawatan.
”Saya langsung membawa ke Puskesmas Dlanggu agar mendapat perawatan,” paparnya. Saat ini, bayi tersebut masih menjalani perawatan intensif di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Editor : Moch. Chariris