Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mitos Gunung Penanggungan: Sejarah sebagai Gunung Suci Masyarakat Jawa Kuno

Imron Arlado • Minggu, 19 April 2026 | 18:25 WIB
 masyarakat sekitar gunung juga mewarisi berbagai mitos lokal yang masih diceritakan hingga sekarang.
Masyarakat sekitar gunung juga mewarisi berbagai mitos lokal yang masih diceritakan hingga sekarang.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gunung penanggungan di Jawa Timur sejak lama tidak hanya dipandang sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai ruang yang syarat makna spiritual. Dalam tradisi Jawa kuno, gunung ini dikenal dengan nama Gunung Pawitra, yang berarti suci.

Penyebutan ini bukan tanpa alasan, karena sejak masa Hindu-Budha gunung tersebut diyakini sebagai salah satu pusat kegiatan religious dan pertapaan.

Kepercayaan akan kesucian Gunung Penanggungan berkaitan erat dengan kosmologi Hindu-Budha yang berkembang di Jawa pada masa itu. Dalam naskah kuno seperti Tantu Panggelaran, diceritakan bahwa Pulau Jawa awalnya tidak stabil, sehingga para dewa memindahkan Gunung Mahameru dari India untuk menyeimbangkannya.

Baca Juga: Legenda Rasa yang Tak Lekang Waktu: Menguak Rahasia Lezatnya Sate Kelapa Khas Mojokerto

Dalam proses itu, bagian-bagian gunung tersebut tersebar dan menjadi gunung-gunung di Jawa, salah satunya adalah Penanggungan. Kisah ini bukan sekadar legenda, tetapi mencerminkan cara masyarakat Jawa kuno memahami alam sebagai sesuatu yang terhubung dengan dunia para dewa.

Secara fisik, bentuk Gunung Penanggungan juga memperkuat pandangan tersebut. Gunung ini memiliki satu puncak utama yang dikelilingi oleh puncak-puncak kecil, menyerupai konsep mandala dalam ajaran Hindu-Budha, yaitu Gambaran kosmos yang terpusat.

Dalam konteks ini, gunung dipahami sebagai titik pertemuan antara dunia manusia dan dunia spiritual. Karena itu, tidak mengherankan jika Kawasan ini dipenuhi aktivitas keagamaan, terutama praktik tapa atau meditasi oleh para resi.

Hal yang menarik, kepercayaan ini tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga didukung oleh temuan arkeologis. Di lereng Gunung Penanggungan ditemukan ratusan situs peninggalan seperti candi, petirtaan, dan gua pertapaan yang berasal dari masa Kerajaan Medang hingga Majapahit.

Situs-situs seperti Candi Jolotundo dan berbagai bangunan suci lainnya menunjukkan bahwa Kawasan ini benar-benar digunakan sebagai tempat ritual dan pencapaian spiritual selama berabad-abad.

Di sisi lain, masyarakat sekitar gunung juga mewarisi berbagai mitos lokal yang masih diceritakan hingga sekarang. Ada kisah tentang makhluk gaib penjaga gunung, pertapa yang masih menghilang, hingga tempat tempat tertentu yang dianggap keramat.

Meski terdengar mistis, cerita-cerita ini memiliki fungsi sosial, yaitu menjaga penghormatan terhadap alam dan memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat semua itu, Gunung Penanggungan bisa dipahami sebagai perpaduan antara mitos dan sejarah. Ia bukan hanya simbol kepercayaan, tetapi juga bukti nyata bagaimana masyarakat Jawa Kuno membangun hubungan dengan alam dan dunia spiritual.

NENSI

Editor : Imron Arlado
#mitos mojokerto #paw #suami #mitos #gunung penanggungan