Area inti Candi Sumur Gantung berupa tumpukan batu bata merah yang sudah berlumut. Separo sisi depan memang sudah berantakan. Ada yang utuh, lebih banyak yang patah. Pemandangan itu sedikit berbeda jika dilihat dari sudut pandang bagian belakang candi. Di tengah-tengahnya, tampak ada semacam lubang. Namun, jika dari bagian belakang, masih terlihat struktur tatanan.
Candi seluas 17x14 meter dengan tinggi sekitar 3 meter ini terletak di tengah permukiman padat. Sisi barat dan seberang jalan berupa rumah-rumah. Timurnya terdapat masjid dan di utara rimbun bambu-bambu. Pelataran situs berupa tatanan batu bata yang menggunung tersebut sekilas menyerupai taman. Rumput layaknya lapangan sepak bola serta tanaman yang dibentuk jadi pagar hidup.
Beberapa pohon perindang tinggi menjulang menambah keteduhan. Ada papan peringatan berbahan besi yang dipenuhi karat mengisyaratkan, area situs yang terletak di Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, ini berada di bawah naungan BPCB Jatim.
Jauh sebelum BPCB datang, warga telah menamakan area tersebut sebagai Candi Sumur Gantung. Menurut cerita dari para sesepuh desa, dulu, area candi dipenuhi dengan pohon-pohon berukuran besar. Seperti pohon asem, pohon kepuh, pohon serut, dan pohon kemiri. Pohon itu berdiri di antara tatanan batu bata. Pohon-pohon itu terakhir berdiri tahun 80-90an. ”Sebelum BPCB tahu (menemukan situs), pohon itu sudah dipotong oleh bapak saya,” ucap Sukanan, Juru Pelihara Candi Sumur Gantung.
Sukanan menceritakan, berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Candi Sumur Gantung merupakan candi persembahan. Konon, ratusan tahun silam, di kawasan yang di antaranya menjadi Desa Berat Wetan itu pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Bulu Ketigo. Sang putri kerajaan yang hendak dipersunting oleh pejabat dari kerajaan Majapahit memberi syarat.
Yakni minta dibangunkan sebuah candi dengan sumur di bagian tengah. ”Dan paling penting permukaan air yang di dalam candi itu lebih tinggi dari sungai,” terang dalang wayang kulit berumur 53 tahun ini. Kisah itu banyak dituturkan secara turun temurun oleh masyarakat sepuh. Oleh kecerdikan pejabat Majapahit, candi itu kemudian dikelilingi dengan pohon-pohon besar supaya bisa menarik sumber air ke dalam candi.
Beberapa upaya pembuktian dan penalaran kisah tersebut pernah dilakukan. Misalnya pengungkapan fakta sisi utara candi yang dulu memanjang aliran sungai besar. Jaraknya sekitar 50 sentimeter dari candi. Bekas sungai itu pernah dibuktikan dengan penggalian tanah yang menghasilkan pasir dan sempat ditambang warga.
Selain itu, penalaran terhadap hubungan pohon dan sungai juga diinterpretasikan sebagai cara untuk menarik sumber air. Sumur terisi air dari resapan di akar-akar pohon. ”Itu kiasan bahasa yang saya kelola supaya bisa diterima kalangan perlajar,” terangnya sembari menyebut jika candi kerap menjadi jujukan para pelajar sekitar belajar sejarah. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah