Api abadi di Desa Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, memang tinggal nama. Belasan tahun lalu, kobaran api yang disebut sudah ada sebelum era kolonial itu mati. Bekas semburan api kini menjadi kubangan air. Area persegi yang dikelilingi tembok pagar itu konon tempat berkobarnya sang api abadi. ”Tahun 1999 mulai meredup, setelah itu masih menyala sedikit-sedikit. Kalau padamnya baru 12 tahun terakhir,” kata Supoyo, warga setempat.
Menurut dia, api abadi bukan sebatas fenomena alam. Bagi warga setempat, api abadi adalah cikal bakal. Fenomena mata air yang keluar dari kubangan dengan uap panas menjadi cikap bakal nama Dusun Bekucuk. ”Kalau disulut pakai api langsung nyala. Di sini dulu tempat pengeboran minyak zaman Belanda,” ungkapnya.
Lambat laun, api abadi mulai menjadi objek wisata dan menarik banyak kunjungan. Di samping jujukan wisatawan, area api abadi juga disakralkan hingga sekarang. Tiga pohon beringin berukuran besar tumbuh di sana. Di pangkalnya tampak kembang-kembang bekas ritual. Konon, di sanalah sosok Mbah Jenggot yang babat alas Dusun Bekucuk pernah singgah. Di dekat petilasan berdiri sebuah pendapa tempat berkumpul warga. ”Kalau ruwat desa warga bawa hantaran ke api abadi. Di sini sangat keramat,” jelas pria 57 tahun ini.
Ia menyatakan, api abadi ditunggui oleh sosok wali. Pria berjubang putih itu tak jarang terlihat berdiri di sudut area tersebut. Pria itu hanya diam memperhatikan sekelilingnya. Kemunculan wali, katanya, dipercaya sebagai pertanda munculnya pagebluk. ”Pas ramai-ramai Covid-19 itu saya lihat sendiri beliau muncul,” ungkap pemilik rumah paling dekat dengan api abadi ini.
Di samping sosok penjaga, api abadi juga dihuni oleh aneka makhluk halus. Seperti sosok pria besar bermata merah hingga genderuwo. Penangkapan mereka menurutnya tidak pernah mengganggu manusia.
Sampai kini, ada satu kepercayaan yang berkembang di masyarakat tentang api abadi. Kubangan air di bekas api abadi merupakan pertanda kemakmuran warga. Selama air itu masih penuh, hasil panen para petani bakal melimpah. Sebaliknya, jika air surut, malapetaka pun berdatangan. Mulai dari gagal panen sampai sawah diserang hama. ”Sudah sering kejadian seperti itu. Kalau airnya habis, orang sini cari makan susah. Kalau air penuh, orang sini tidak akan kekurangan,” tandasnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah