GEDUNG SMPN 2 Kota Mojokerto dulunya merupakan sekolah khusus keturunan Eropa dan kalangan bangsawan. Di sekolah tersebut, Presiden Soekarno pernah mengenyam pendidikan dan konon memiliki kekasih seorang Indo. Di Balik usia bangunan yang sudah seabad lebih, tersimpan beragam kisah misteri. Cerita penampakan sosok noni Belanda hingga galeman berbunyi sendiri akrab di telinga warga sekolah.
Jejak era kolonial melekat kuat di gedung SMPN 2 Kota Mojokerto. Hingga kini, pintu dan jendela khas arsitektur Belanda masih dipertahankan. Beberapa ruang kelas bahkan dilengkapi dengan lampu kuno. ’’Kami hanya merawat melakukan pengecatan, kalau renovasi tidak. Pintu, kusen, dan jendela, termasuk plafon kelas masih asli Belanda,’’ terang Kepala SMPN 2 Kota Mojokerto Mulib ditemui Rabu (13/7).
Berdasarkan literatur sejarah, dulunya, sekolah ini bernama ELS (Europeesche Lagere School). ELS merupakan sekolah dasar zaman Belanda yang diperuntukkan bagi keturunan Eropa serta bangsawan pribumi. Pada 1912-1916. Setelah lulus dari sekolah Ongko Loro (kini SDN Purwotengah), Presiden Soekarno diceritakan pernah bersekolah di tempat tersebut. ’’Soekarno kecil bisa sekolah di sini karena termasuk bangsawan. Saat ini sekolah ini juga ditetapkan sebagai cagar budaya,’’ ujarnya.
Untuk menghormati sejarah, ada satu ruang kelas yang dipertahankan dengan bentuk khas Belanda. Dari papan tulis, bangku berbahan kayu, sampai lampu-lampu kuno. Kelas tersebut dipercaya sebagai tempat Sang Proklamator belajar. Beberapa foto Seokarno kecil dan ketika menjabat presiden juga terpajang. Semasa bersekolah di sana, Bung Karno pernah dekat dengan seorang siswi keturunan Belanda. Dia disebutkan pernah mencium teman kelasnya itu dan mengajaknya jalan-jalan. Kisah itu diceritakan dalam buku biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Di balik nilai sejarah yang kental, gedung SMPN 2 Kota Mojokerto juga menyimpan kisah misteri. Berbagai penampakan sosok makhluk halus tak jarang ditemui warga sekolah. Khususnya di deretan bangunan kelas bagian belekang. Di sana, konon ada seorang pria berpenampilan seperti Presiden Soekarno. ’’Ya pakai gaya pakaian seperti Soekarno waktu jadi presiden begitu. Itu yang banyak lihat anak-anak dan guru,’’ tutur Mulib.
Pengalaman mistis ini juga dirasakan warga sekolah lainnya. Hadi, petugas kebersihan mengaku pernah menyaksikan sendiri sosok noni Belanda berparas cantik jelita usia kisaran 30 tahun. Perempuan berpakaian serba putih dengan rambut menjuntai sampai pinggul itu muncul di area taman atara bangunan sanggar pramuka dan ruang kelas. ’’Sosoknya terbang bolak-balik sampai tiga kali. Waktu itu banyak yang lihat karena malam itu ada kegiatan rias sepeda untuk karnaval,’’ ungkap pria yang sudah sembilan tahun bekerja di SMPN 2 Kota Mojokerto ini.
Hadi menyebut, pengalaman mistis juga muncul ketika dirinya baru dua minggu kerja. Suara kotekan meja muncul dari dalam kelas paling barat. Namun, saat didatangi, suara yang tak berhenti selama lima menit tersebut hilang. ’’Ada juga sosok pria yang berjalan dari arah musala masuk ke kelas. Tapi tidak kelihatan mukanya,’’ jelas pria 53 tahun tersebut.
Muhamad Sugiharianto, petugas jaga malam punya pengalaman mistis lain. Seperangkat gamelan berbunyi sendiri. Lantunan gendhingan alat musik tradisinal itu disebutnya menyerupai irama iringan tari. ’’Waktu itu ada saya dan dua penjaga lain. Ada juga guru di bawah dan anak-anak yang mau lagihan musik. Semuanya dengar,’’ ujarnya.
Peristiwa tersebut diyakininya sebagai ulah makhluk halus. Sebab, saat itu ruangan musik sedang terkunci dan guru maupun siswa kesenian tak di tempat. Kejadian alat musik berbunyi sendiri dialaminya berulang kali. Suatu waktu, dia juga mendengar gong yang berada di lantai bawah mendengung. ’’Biasanya kalau habis mangrib sama tengah malam,’’ kata pria 25 tahun ini. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah