Buaya itu disebut sudah ada selama puluhan tahun. Buaya disimpan bersama benda-benda pusaka lainnya di ruangan sudut peringgitan. Buaya jenis muara itu konon berasal dari Sungai Brantas. ”Ini buaya asli. Sudah dikeringkan,” kata Nur Ali, warga yang ikut dalam kegiatan identifikasi pusaka.
Pria asal Desa Manting, Kecamatan Jatirejo ini menyebut, keberadaan buaya tersebut sudah ada sejak era Bupati Machmoed Zain sekitar 1990. Keberadaan buaya itu dimaksudkan sebagai pusaka untuk menangkal malapetaka. Menurut Ali, buaya menjadi pelindung Kabupaten Mojokerto supaya tidak diterjang bencana banjir. ”Buaya ini untuk melindungi supaya kabupaten tidak terkena banjir atau air,” jelas pria 50 tahun tersebut.
Kepercayaan itu seiring dengan keberadaan buaya yang identik dengan kehidupan di sungai. Ali menyebutkan, buaya yang diawetkan tinggal kulitnya ini dirawat sebagaimana benda pusaka lain di peringgitan. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah