Dam Rolak Songo memisahkan Kabupaten Mojokerto dengan Kabupaten Sidoarjo. Warga menyebut, kompleks perkantoran Dam Rolak Songo dibangun pada 1846 hingga 1880. Keyakinan itu berdasarkan angka tahun yang terpatri pada dua bongkahan batu di sekeliling pohon beringin. Pohon berukuran besar itu menjulang tepat di depan bekas gedung perkantoran era Belanda yang saat ini masuk wilayah Dusun Jabon, Desa Mliriprowo, Kecamatan Tarik, Sidoarjo.
Didyk Agung, warga setempat mengatakan, lokasi dam aslinya berada sekitar 200 meter di utara Rolak Songo yang saat ini dikenal. Bekas Rolak Songo itu bisa ditandai dengan jembatan dan sudetan sungai. Baru setelah era kemerdekaan, bendungan peninggalan Belanda itu dipindah. ”Dulu rusak karena banjir. Jadi Rolak Songo yang sekarang itu bukan bangunan Belanda. Dulu pintu airnya sembilan, sekarang kan hanya delapan,” jelasnya.
Di era kolonial, dari kompleks perkantoran di sisi timur Sungai Brantas itulah, Dam Rolak Songo dioperasikan. ”Ada yang jadi kantor pegawai, bengkel, dan gudang,” ujarnya.
Kompleks perkantoran itu terdiri dari empat gedung utama. Meliputi kantor pengelola sungai, dinas perairan, bengkel tempat menyimpan alat-alat berat, serta sebuah gudang. Menurut Didyk, dua bangunan masih dimanfaatkan, sedangkan sebagian kini dibiarkan mangkrak. ”Sudah tidak diurus, tapi asetnya masih milik pengelola dam,” katanya.
Pria 49 tahun ini menceritakan, berbagai kisah mistis mewarnai keberadaan gedung-gedung dengan arsitektur khas Belanda tersebut. Warga maupun pengendara yang melintas kerap menyaksikan penampakan dua sosok perempuan berbaju merah dan putih. Mereka sering muncul di pohon beringin dan bekas bangunan. ”Yang satu tua dan satunya masih muda. Mereka baik,” tutur pria asal Dusun Pajaran Selatan, Desa Mliriprowo tersebut.
Di samping usianya yang sudah tua, bangunan itu memang terkesan seram. Kendati masih tampak berdiri kokoh, dindingnya sudah mulai memudar dan dirambati arak-akar tumbuhan. Hal itu menandakan tak banyak aktivitas orang di lokasi. Sebagian atap gedung sudah bolong serta kusen-kusen pintu dan jendelanya hilang. Didyk menyebut, kayu-kayu itu dijarah warga untuk dijual.
Selain pengalaman mistris penampakan, dirinya meyakini kompleks gedung tersebut memiliki penunggu. Tak ayal, jika berniat jahat, bakalan mendapat tuah. Salah satu kisah yang paling terkenal datang dari dua sejoli yang berbuat tak seronoh di kompleks tersebut pada 1990-an. Keduanya diceritakan nekat melakukan hubungan badan di bekas gedung sehingga berujung gencet atau tidak bisa saling lepas. ”Banyak yang bilang mereka kualat,” ujarnya.
Senada dengan Didyk, Sri Mulyowati, pemilik warung kopi di kawasan tersebut juga kerap mendengar cerita di luar nalar. Kepadanya, warga maupun pengunjung mengaku melihat sosok pria beratribut aneh di bekas kantor tepat belakang warungnya. ”Ada anak kecil bilang ke ibunya. Katanya ada laki-laki bawa pistol, keris, dan cangkul,” tuturnya. Sosok itu dipercaya sebagai penjaga bangunan.
Menurut perempuan 57 tahun ini, hawa angker juga terasa di siang hari. Mereka yang tak kuat dengan aura mistris gedung tersebut bakal memilih pergi. ”Keplayon sendiri,” imbuhnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah