Rumah yang dikelilingi rerimbunan pohon itu sempat dikosongkan selama puluhan tahun. Semenjak ditinggalkan pemilik pertama, penghuni berikutnya tidak ada yang bertahan lama. Aura mistis yang kuat disebut-sebut membuat calon penghuni pilih angkat kaki. Sebagian dari mereka bahkan berujung tragis. Mulai dari sakit-sakitan hingga jadi gila.
Pada 1999, Syamsul Huda, seorang pria asal kampung setempat berhasil ’’menakhlukkannya”. Huda mengakui berbagai pengalaman mistis dialami keluarganya yang sudah 23 tahun menempati bangunan tersebut. Misteri yang menyelimuti rumah asli buatan zaman Belanda itu dapat dirunut dari kisah sang pemilik pertama yang konon memiliki pesugihan.
Huda menceritakan, sejarah rumah tersebut awalnya merupakan milik pasangan pribumi bernama Kusnan dan Fatikah. Mereka termasuk keluarga terpandang karena kaya raya. Kusnan dikenal sebagai seorang tuan tanah. Sawahnya ada di mana-mana. Lahan pertanian itu digarap oleh para bawahan Kusnan. Kusnan juga memiliki usaha tempat penggilingan padi.
Di kampungnya, pada era 1950-an, dia menjabat sebagai carik atau sekretaris desa. Kusnan juga memiliki perkumpulan berbentuk koperasi yang diketuainya sendiri. ”Waktu iu anak buahnya banyak,” ujar Huda.
Jejak kekonglomeratan sang pemilik rumah juga tampak dari deretan bangunan. Di bagian belakang rumah, terdapat bangunan mirip mes. Bangunan yang terpisah dari bangunan utama itu terdiri dari tiga kamar pembantu. Saat ini, bangunan tersebut dikosongkan. Selain itu, di sisi timur juga terdapat sebuah garasi mobil. Sedangkan, untuk bangunan utama terdiri dari bangunan untuk tamu dan satunya keluarga. Di rumahnya itu pula, Kusnan menyimpan harga benda kekayaannya. Seperti emas dan uang.
Hadi menyampaikan, cerita yang beredar di kalangan masyarakat sepuh sekitar, kekayaan kusnan didapatkan dengan cara tidak benar. Kusnan disebut melakukan pesugihan dan perjanjian dengan makhluk halus sehingga hartanya melimpah. ”Ada ritual kesaktian dan pesugihan,” ungkapnya.
Diyakini pula, anak buah Kusnan melakukan pembataian terhadap puluhan orang untuk tumbal pesugihan. Mereka dibunuh dan dikubur di garasi mobil. Huda menyebut, kisah itu dituturkan oleh para sesepuh kampung. ”Kalau ceritanya ada 26 orang yang dibunuh. Kita juga tidak tahu pasti,” terangnya.
Kusnan biasa melakukan ritual pesugihan di salah satu kamar di rumahnya. Dan, kamar itulah yang sampai saat ini tak pernah dibuka. Konon, di dalam kamar itu tersimpan benda-benda keramat dan harta benda milik Kusnan. ”Mungkin emas batangan kalau zaman dulu dikubur di tanah,” imbuh pria 53 tahun ini. Sosok Kusnan diabadikan dalam sejumlah foto hitam putih berpigora yang dipajang di dinding ruang tamu kamar tersebut.
Riyawat Kusnan tamat setelah dia menderika sakit berkepanjangan. Dia meninggal diduga karena mengingkari janji dengan makhluk halus. ”Perkiraan masa kejayaannya itu tahun 1950 sampai 1970-an,” katanya.
Sepeninggalan Kusnan, rumah tersebut dihuni oleh Fatikah bersama anak-anaknya. Namun, tak lama kemudian, mereka pindah. Sebab, kerap terjadi aksi percobaan pencurian lantaran banyak yang mengincar harta benda Kusnan. ”Ada cerita mereka sembunyi di loteng rumah sehingga selamat,” jelasnya.
Di medio 1970-an itulah, rumah tersebut mulai dikosongkan. Di salah satu kamar yang dulu ditinggali pasutri itu, terdapat sebuah kalender dinding tahun 1978. Tahun itulah yang dimungkinkan terakhir keluarga tersebut tinggal.
Huda menyebut, sepeninggalan pemilik pertama, beberapa orang sempat mencoba meninggali rumah. Namun, semuanya tidak ada yang bertahan. ”Ada yang meninggal, ada yang gila, akhirnya kosong. Yang terakhir yayasan, dan pindah juga setelah beberapa bulan,” ungkapnya.
Hingga akhirnya, pada tahun 1999, Huda yang mulanya merantau ditawari tinggal di rumah tersebut. Dan, hingga 23 tahun berselang, dia dan keluarganya bertahan di rumah tersebut. Bahkan, hingga memiliki lima orang anak.
Huda menjelaskan, pengalaman mistris banyak dialami istrinya. Dari dalam kamar bekas ritual, kerap muncul suara tangisan seorang penempuan yang diduga merupakan jelmaan Fatikah.
Selama puluhan tahun, kamar tersebut sampai sekarang tidak bisa dibuka. Kuncinya hilang entah kemana. Huda mengaku sempat beberapa kali memanggil tukang kunci, namun tak ada yang berhasil membuka. ”Mau dijebol juga eman. Yang jelas ini tidak pernah dibuka,” papar dia.
Selain itu, anak-anaknya juga kerap melihat sosok genderuwo hingga pocong. Kendati terus dihantui, namun keluarga Huda bertahan hingga kini. ”Saya hanya diminta untuk menempati rumah ini, ya kami jaga. Selama niatnya baik,” tuturnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah