Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi identik dengan tugu buaya putih. Penghuni Sungai Brantas yang melegenda sebagai pelindung masyarakat setempat itu, diyakini merupakan jelmaan Mbah Soro. Tokoh yang mbabat alas kampung setempat. Baik tugu buaya putih maupun punden Mbah Soro, keduanya sama-sama disakralkan.
DUA tempat ikonik itu hanya terpisah badan jalan menikung penghubung Mojokerto-Jombang. Tugu buaya putih berdiri kokoh di tepi utara jalan, berseberangan dengan pundek tempat petilasan Mbah Soro yang lebih dekat dengan aliran Sungai Brantas. Keduanya masuk wilayah Dusun Kemiri.
Hadi Wijaya, warga setempat menyampaikan, legenda buaya putih dan Mbah Soro saling mengikat. Bahkan, sebelum masuk area monumen buaya putih pun, Jawa Pos Radar Mojokerto disarankan pamit ke punden Mbah Soro. ”Kepercayaan masyarakat, Mbah Soro ini sesepuh yang babat alas. Jadi lebih baik ke sana dulu,” kata pemilik warung sekitar tugu buaya putih tersebut sembari menuju lokasi punden.
Pundek Mbah Soro seluas kira-kira lima meter persegi dan dikelilingi dengan pagar khas Majapahitan. Di tengah area punden, menjulang dua pohon asam berukuran besar. Menurut Hadi, pohon yang dahannya hampir membumi itu telah berumur ratusan tahun. Di sekitar pohon, tanpak sisa-sisa sesaji seperti telur ayam dan bunga-bunga yang telah mengering. ”Ini tempat keramat,” ucap pria 42 tahun tersebut.
Hadi menuturkan, masyarakat dengan berbagai keperluan sering melalukan upacara di petilasan yang berdampingan dengan bengkel perajin bedug tersebut. Seperti sebelum kegiatan sedekah bumi atau warga yang hendak punya hajatan. Dengan pamit ke Mbah Soro, mereka berharap supaya tidak ada aral melintang. ”Bukan hanya warga sini saja, tapi luar desa juga banyak yang datang. Sudah seperti tradisi,” terangnya.
Mbah Soro dipercaya sebagai sosok yang kali pertama menempati kawasan yang kini menjadi Desa Kedungsari. Tokoh babat alas yang selepas kematiannya diyakini menjelma sebagai buaya putih. Ya, seekor buaya berwarna putih yang menghuni aliran Sungai Brantas di wilayah Desa Kedungsari.
Menurut Hadi, legenda buaya putih muncul sebelum era kemerdekaan. Dari cerita yang berkembang, pada masa itu warga kerap menyaksikan kemunculan buaya putih berukuran selayaknya buaya pada umumnya. Buaya tersebut dipercaya sebagai penjaga desa. Sebab, sosoknya hanya sesekali muncul tanpa melukai orang. ”Dulu di aliran sini kan ada tambang pasir, itu tidak pernah diganggu. Kami percaya Mbah Soro yang menjadi buaya putih ini ingin melindungi masyarakat,” ungkap ketua karang taruna Dusun Kemiri tersebut.
Tak hanya oleh segelintir orang. Sosok buaya putih dipercaya secara turun temurun. Kendati, saat ini, sosoknya tak lagi pernah terlihat, warga meyakini buaya putih benar ada sebagaimana cerita dituturkan lintas generasi. Dan kepercayaan terhadap sosok buaya putih itu diwujudkan menjadi patung puncak tugu setinggi empat meter. ”Patung ini pertama dibuat 2015 yang sekarang jadi ikon desa kami,” jelasnya.
Selain sebagai bentuk penghormatan, keberadaan tugu buaya putih diharapkan pula menjadi pelindung masyarakat. Hadi menyebut, sebelum ada tugu buaya putih, berbagai kejadian buruk menimpa desanya. Yang paling hangat diingatannya adalah banyaknya kejadian kecelakaan tragis di jalan sekitar tugu tersebut. Kejadian buruk itu diyakini kutukan dari siluman kera.
”Dulu ada kera yang punya sifat jahat, dia ada di tempat yang sekarang jadi tugu bajul putih ini. Setelah dibangun tugu, sekarang aman,” tandas Hadi menekankan cerita demikianlah yang hidup di masyarakat. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah