Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenal Istilah Gaul ‘Cegil’: Antara Candaan dan Stereotip Digital

Imron Arlado • Selasa, 22 Juli 2025 | 00:34 WIB

Di era yang serba digital dan serba cepat ini, bahasa gaul semakin berkembang mengikuti tren dan gaya hidup penggunanya. Sumber Foto: Pinterest
Di era yang serba digital dan serba cepat ini, bahasa gaul semakin berkembang mengikuti tren dan gaya hidup penggunanya. Sumber Foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MOJOKERTO -Di era yang serba digital dan serba cepat ini, bahasa gaul semakin berkembang mengikuti tren dan gaya hidup penggunanya. Salah satu istilah gaul yang sempat viral di kalangan generasi muda.

Istilah ‘Cegil’, kependekan dari cewe gila, sekilas terdengar jenaka dan Santai. Namun penggunaan istilah ini menyimpan makna yang lebih dalam dan berpotensi memunculkan stigma negatif terhadap perempuan.

Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan perempuan yang memiliki tingkah laku yang dianggap aneh, berlebihan, atau di luar nalar, terutama dalam konteks hubungan percintaan.

 

Baca Juga: Bakal Jadi Event Tahunan, Desa Canggu, Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto Bangkitkan Semangat Olahraga

 

Meskipun menggunakan kata "gila", cegil tidak selalu merujuk pada gangguan jiwa, tetapi lebih pada perilaku yang dianggap obsesif, posesif, atau dramatis dalam mengejar cinta atau perhatian.

Istilah ini dapat muncul dalam bentuk komentar, caption, meme, atau bahkan menjadi bagian dari identitas diri secara bercanda."Cegil" adalah istilah bahasa gaul yang merupakan singkatan dari "cewek gila".

Banyak pengguna internet yang menggunakan istilah ini sebagai bentuk candaan atau ungkapan kekaguman terhadap perempuan yang berani tampil beda dan tidak takut dianggap aneh.

Namun, di sisi lain, istilah ini juga bisa digunakan secara merendahkan, untuk mengolok-olok perempuan yang terlalu berisik, emosional, atau berlebihan.

Dalam konteks ini cegil tidak terdengar lucu, melainkan menjadi label yang menstigma perempuan yang tidak sesuai ekspektasi sosial.

 

Baca Juga: Bukan Hanya Korupsi Kapal TBM, Ajukan JC, Tersangka Bakal Bongkar Proyek Lain di Kota Mojokerto

 

Penggunaan istilah seperti ‘Cegil’ mencerminkan budaya labelling yang masih sangat kuat di media sosial, terutama terhadap perempuan.

Banyak perempuan yang mengekspresikan diri dengan bebas malah dilabeli dengan istilah seperti ‘Cegil’, atau ‘Drama Queen’.

Hal ini menunjukkan ada standar ganda yang masih terjadi. Ketika laki-laki bersikap ekspresif, dianggap lucu dan keren, sedangkan perempuan ketika melakukan hal yang serupa, malah dicap cegil atau lebay.

Bahasa gaul memang bagian dari dinamika sosial dan ekspresi kreatif generasi muda.  Namun, penting untuk menyadari dampak dari penggunaan istilah-istilah tersebut, terutama yang mengarah pada stereotip gender.

 

Baca Juga: Gubernur Khofifah Tinjau KMP di Miji Kota Mojokerto

 

Istilah ‘Cegil’ adalah Gambaran nyata bagaimana bahasa di era digital bisa menjadi alat untuk membebaskan ekspresi, tapi juga bisa menjadi alat untuk mengekang hingga merendahkan.

Boleh saja kita bercanda, tetapi jangan sampai melupakan batasan. Karena setiap kata yang kita ucapkan, bisa mempunyai makna yang lebih besar dari yang kita kira. NIYA

 

 

Editor : Imron Arlado
#bahasa gaul #istilah #Lifestyle #Gen Z #cegil