Jenis batik karya perajin Mojokerto kian beragam. Dari segi teknik pembuatan, kini mulai banyak bermunculan batik ecoprint yang menjiplak bentuk serta warna tanaman. Kemunculan batik yang dianggap ramah lingkungan itu menambah keberagaman batik yang selama ini didominasi jenis tulis dan cap.
ANEKA produk batik itu dapat ditemui dalam acara Batik Fest 2026 di Central Atrium Sunrise Mall, Kota Mojokerto. Tak hanya memamerkan batik buatan galeri-galeri di Mojokerto, gelaran yang berlangsung selama tiga hari pada 2-4 Oktober ini juga diisi dengan fashion show dan praktik mencanting batik tulis secara langsung.
Pada hari pertama gelaran, Jumat (2/10), sejumlah stan memamerkan produk batik dengan teknik pembuatan dan motif beragam. Salah satunya Ewa Galeri yang menawarkan keunikan tersendiri dengan batik ecoprint-nya. Berbeda dengan butik lain yang mengunggulkan kain batik tulis beraneka motif, semua jenis barang yang dijual toko ini berupa batik dengan motif dan warna dari tumbuhan. ’’Ini pakai pewarna alami, warna-warna ini yang keluar dari daunnya,’’ kata Putri Assyifa, penjaga stan Ewa Galeri.
Busana batik ecoprint yang dipamerkan Ewa berupa vest (semacam rompi), kimono, jaket, kemeja, rok, hingga gaun siap pakai. Selain itu, terdapat pula berbagai jenis sepatu dan tas hingga kain bermotif dedaunan. ’’Harganya mulai Rp 200 ribu sampai Rp 1,2 juta untuk yang kain sutra,’’ jelas Puput, panggilan Putri Assyifa.
Ia menjelaskan, pembuatan batik ecoprint menggunakan jenis tanaman seperti daun afrika dan daun lanang. Dua tanaman ini dikenal sebagai penghasil warna alami. Bahan daun itu, Puput menyebut, didapat dari hasil berburu di kawasan hutan Pacet dan Trawas. ’’Karena tidak sembarang jenis daun bisa mengeluarkan warna untuk batik ecoprint, jadi mama keliling sendiri ke hutan cari daunnya,’’ tutur gadis 14 tahun yang tak lain putri pemilik Ewa Galeri tersebut.
Dalam proses pembuatan, Ewa yang beralamat di Jalan Lombok, Kota Mojokerto, menggunakan teknik kukus yang membuat zat warna keluar maksimal dan bentuk daun terjiplak secara sempurna. Tanpa pewarna tambahan, perawatan batik jenis ini memerlukan perlakuan khusus. Salah satunya menghindari penggunaan detergen supaya warna dan motif batik tidak pudar. ’’Karena bahannya alami, jadi untuk pencucian disarankan pakai sampo dan tidak terkena matahari langsung,’’ tandasnya.
Kendati belum sepopuler batik konvensional, ecoprint karya Ewa yang diluncurkan sejak 2021 memiliki daya tarik tersendiri bagi beberapa kalangan. Khususnya mereka yang memperhatikan fesyen dan mengikuti tren gaya hidup ramah lingkungan. (adi/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto