JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Banyak sekali anak muda yang lebih memilih untuk mencari dan membeli pakaian bekas orang lain daripada membeli pakaian baru, meskipun terdengar aneh bagi kebanyakan orang, fenomena yang disebut thrifting ini adalah suatu hal yang sangat bermanfaat bagi lingkungan, karena dengan melakukan thrift kita dapat memperpanjang usia pakai pakaian tersebut sehingga mengurangi limbah baru.
Ada beberapa alasan di balik terjadinya fenomena ini, beberapa diantaranya yaitu karena perubahan gaya hidup generasi muda yang mengkombinasikan keinginan untuk tampil unik namun tetap hemat anggaran, sekaligus untuk mengurangi sampah konsumsi.
Tren style berpakaian memang sangat cepat berubah, jika dahulu sebuah tren fashion membutuhkan waktu puluhan tahun untuk berputar dan berganti, kini sebuah gaya bisa menjadi sangat populer lalu meredup hanya dalam hitungan bulan bahkan minggu. Maka dari itu, banyak anak muda yang berhenti mengikuti perputaran tren dan memilih untuk melakukan thrifting demi mengurangi permintaan fast fashion.
Selain itu, Anak muda yang berasal dari subkultur skena dan berbagai komunitas fashion kreatif lainnya menganggap bahwa thrifting bukan sekadar alternatif belanja murah, melainkan sebuah identitas, simbol status sosial, dan ajang unjuk kreativitas. Anak muda yang merupakan anggota komunitas fashion sangat menghindari gaya berpakaian yang pasaran, sehingga toko yang menjual barang-barang bekas menjadi destinasi utama ketika ingin membeli pakaian, selain itu pakaian bekas yang vintage atau tua sering diburu karena memiliki cerita di baliknya.
Baca Juga: Kenali Gejalanya! Tips Mencegah Flu Musiman di Tengah Peningkatan Influenza A
Dalam dunia skena, kemampuan para anggota komunitas fashion untuk memadukan pakaian bekas yang murah atau tak beraturan menjadi terlihat sangat modis dengan mengandalkan kreativitas mereka adalah sebuah pencapaian.
Dan yang terakhir adalah karena banyak anak muda skena yang menganggap bahwa membeli barang bekas merupakan bentuk perlawanan terhadap kapitalisme industri fast fashion yang merusak lingkungan dan mengeksploitasi buruh, sehingga mereka lebih memilih untuk memutar uang mereka di sesama pedagang kecil atau UMKM lokal yaitu thrift store.
Sebenarnya thrifting bukanlah sebuah tren, namun sebuah gaya hidup yang memungkinkan anak muda untuk tetap tampil modis dengan modal yang terbatas, bukan harga apalagi keviralan yang menentukan kemodisan suatu outfit, namun kemampuan styling dan kreativitas untuk memadukan pakaian-pakaian bekas menjadi penentu keren atau tidaknya gaya berpakaian yang kalian ciptakan. KEYSHA
Editor : Imron Arlado