BERBEDA dengan komunitas pada umumnya, komunitas Mojokerto Reptil (Joker) cenderung ekstrem karena menjadi perkumpulan para pecinta hewan reptil layaknya ular dan biawak. Namun, di balik kengeriannya, komunitas ini berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi dan pelestarian satwa melata tersebut.
Ajang sosialisasi itu digelar anggota Joker dalam berbagai kegiatan gathering dan sharing. Pertemuan para pecinta reptil itu biasanya dilaksanakan di tempat-tempat publik seperti Alun-Alun Wiraraja, Taman Bahari Majapahit, hingga Pasar Semeru. Selain memamerkan hewan koleksinya, mereka turut memberikan edukasi kepada masyarakat yang berkunjung mengenai seluk-beluk binatang jenis reptil.
’’Melalui kegiatan semacam ini, kami ingin menyebarluaskan rasa mengasihi binatang, ada pesan agar tidak menyakiti binatang kepada masyarakat dewasa maupun anak-anak,’’ tutur Ketua komunitas Joker Muhammad Vikki.
Komunitas ini memiliki sekitar 30 anggota aktif yang tersebar di Mojokerto Raya. Binatang yang biasanya mereka bawa saat pameran antara lain ular koros, sanca kembang, sanca bola, iguana, kadal, kura-kura, biawak, cicak, hingga tokek.
Selain melalui pameran, komunitas Joker selama ini aktif menggelar kegiatan publik seperti edukasi kepada siswa sekolah, pelatihan evakuasi satwa liar untuk petugas pemadam kebakaran, hingga membantu proses evakuasi reptil di permukiman warga.
Keberadaan komunitas ini turut mendapat apresiasi dari Kementerian Kehutanan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 8 Mojokerto-Lamongan beberapa kali menghadiri gathering yang digelar komunitas.
BBKSDA menilai kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pemerintah dan komunitas dalam meningkatkan kesadaran konservasi satwa liar, khususnya reptil. BBKSDA pun memastikan tidak ada jenis satwa dilindungi yang dimiliki anggota komunitas. Mereka juga dinilai telah memahami regulasi mengenai pemeliharaan satwa liar serta aspek penanganan dan pemeliharaan hewan. (adi/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto