Childfree di Kalangan Generasi Muda, Pahami Alasan dan Stigmanya di Masyarakat

Imron Arlado • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 19:46 WIB
Keputusan untuk "childfree" masih menuai perdebatan pro dan kontra di media sosial. (Foto: Liv Bruce/Unsplash)
Keputusan untuk "childfree" masih menuai perdebatan pro dan kontra di media sosial. (Foto: Liv Bruce/Unsplash)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Childfree bukanlah istilah yang asing. Saat ini, banyak perbincangan di media sosial mulai muncul tentang penerapan prinsip childfree. Tak jarang, prinsip tersebut menuai banyak perdebatan pro dan kontra di media sosial.

Apa itu Childfree?

Childfree merupakan keputusan sadar yang diambil oleh seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun melalui adopsi. Berbeda dengan childless yang merupakan suatu kondisi di mana tidak memiliki anak merupakan hal di luar kendali manusia, childfree diputuskan secara sukarela dan disengaja.

Baca Juga: Panorama Kafe Trawas: Tempat Liburan Terbaik dan Ramah Keluarga di Trawas Mojokerto

Keputusan untuk menjadi childfree biasanya didasarkan pada banyak faktor dan alasan seperti:

Jika childfree merupakan sebuah keputusan personal, lantas mengapa orang yang memutuskan untuk childfree seringkali mendapatkan stigma dan hujatan? Berikut alasannya:

Baca Juga: Ratusan ASN Kota Mojokerto Jalani Pemetaan Kompetensi

Memiliki anak maupun tidak merupakan keputusan yang memiliki pertimbangan masing-masing. Di tengah perubahan kondisi ekonomi dan geopolitik, pola kehidupan, dan cara antargenerasi memandang suatu keluarga, perdebatan mengenai childfree akan terus muncul.

Oleh karena itu, seorang individu harus bisa memahami keputusan yang dibuat oleh orang lain karena yang akan menjalani kehidupan tersebut adalah orang itu. NAVA

Editor : Imron Arlado
keluarga anak stigma childfree