JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Childfree bukanlah istilah yang asing. Saat ini, banyak perbincangan di media sosial mulai muncul tentang penerapan prinsip childfree. Tak jarang, prinsip tersebut menuai banyak perdebatan pro dan kontra di media sosial.
Apa itu Childfree?
Childfree merupakan keputusan sadar yang diambil oleh seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun melalui adopsi. Berbeda dengan childless yang merupakan suatu kondisi di mana tidak memiliki anak merupakan hal di luar kendali manusia, childfree diputuskan secara sukarela dan disengaja.
Baca Juga: Panorama Kafe Trawas: Tempat Liburan Terbaik dan Ramah Keluarga di Trawas Mojokerto
Keputusan untuk menjadi childfree biasanya didasarkan pada banyak faktor dan alasan seperti:
- Trauma masa kecil. Pengalaman negatif di masa kecil bisa memengaruhi sudut pandang seseorang terhadap peran sebagai orang tua. Banyak individu yang khawatir akan meneruskan luka masa lalu jika mereka memiliki anak.
- Beban tanggung jawab dan finansial. Membesarkan anak membutuhkan komitmen finansial dan tanggung jawab jangka panjang serta kebutuhan yang meningkat. Sehingga banyak individu yang tidak siap akan hal tersebut.
- Fokus pada karier dan pengembangan diri. Membesarkan anak membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Sedangkan masing-masing individu memiliki prioritas yang berbeda-beda.
- Pertimbangan kesehatan fisik dan mental. Kehamilan dan persalinan membawa risiko kesehatan fisik dan mental utamanya bagi ibu, sehingga hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama bagi para wanita agar tidak memaksakan diri menjadi orang tua.
- Keinginan hidup bebas dan fleksibel. Setelah memiliki anak, fleksibilitas dan kebebasan merupakan hal yang sulit untuk didapatkan karena kebutuhan anak semakin meningkat seiring berjalannya waktu.
- Kekhawatiran pada masa depan. Kondisi lingkungan dan negara yang tidak menentu memicu keraguan individu tentang keadaan di masa depan apabila mereka memiliki anak.
- Tidak memiliki keinginan untuk menjadi orang tua. Sebagian orang dengan sadar tidak merasakan dorongan untuk menjadi orang tua karena tidak tersedianya parental instinct.
Jika childfree merupakan sebuah keputusan personal, lantas mengapa orang yang memutuskan untuk childfree seringkali mendapatkan stigma dan hujatan? Berikut alasannya:
- Budaya di Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia sering kali menempatkan kepentingan kelompok di atas pilihan individu, sehingga urusan pribadi pun sering dianggap urusan bersama keluarga besar, bahkan tetangga.
- Norma atau nilai sosial tentang keluarga. Nilai-nilai di Indonesia sering mendefinisikan keluarga sebagai kehadiran ayah, ibu, dan anak. Apabila tidak ada anak, maka dianggap secara tidak langsung merusak dan tidak menghargai tatanan baku keluarga.
- Anggapan bahwa memiliki anak adalah suatu kewajiban. Anggapan ini masih banyak ditemukan di masyarakat Indonesia, utamanya dengan pepatah “banyak anak, banyak rezeki”.
- Kurangnya edukasi. Banyak masyarakat masih belum memahami edukasi tentang persiapan sebelum menjadi orang tua, sehingga kurangnya pemahaman tersebut membuat publik mudah menghakimi pelaku childfree sebagai sosok yang “penakut”.
- Kekhawatiran terhadap regenerasi. Ketakutan terhadap berkurangnya populasi usia produktif di masa depan masih banyak ditemukan di masyarakat.
- Tekanan dari keluarga. Orang tua dan kerabat di Indonesia biasanya merasa berhak “ikut campur” dan memiliki hak moral untuk menuntut penerus keluarga.
- Asumsi publik. Publik sering kali menghakimi satu sisi tanpa memahami alasan yang sebenarnya di balik prinsip childfree, sehingga banyak memicu narasi publik yang negatif.
Baca Juga: Ratusan ASN Kota Mojokerto Jalani Pemetaan Kompetensi
Memiliki anak maupun tidak merupakan keputusan yang memiliki pertimbangan masing-masing. Di tengah perubahan kondisi ekonomi dan geopolitik, pola kehidupan, dan cara antargenerasi memandang suatu keluarga, perdebatan mengenai childfree akan terus muncul.
Oleh karena itu, seorang individu harus bisa memahami keputusan yang dibuat oleh orang lain karena yang akan menjalani kehidupan tersebut adalah orang itu. NAVA
Editor : Imron Arlado