Tren Earphone Kabel, Dinilai Lebih Nyaman dan Minim Radiasi

Yulianto Adi Nugroho • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:47 WIB
Ilustrasi penggunaan earphone kabel. (AI)
Ilustrasi penggunaan earphone kabel. (AI) 

DI tengah gempuran produk earphone wireless, earphone kabel masih digandrungi banyak kalangan. Bahkan, kini muncul tren anak muda menggunakan alat pendengar konvensional itu karena dinilai lebih enak dipakai daripada earphone yang mengandalkan bluetooth dan baterai.

Bagi Fitri, tak ada yang bisa menggantikan kenyamanan mendengarkan musik dengan earphone kabel. Perempuan 20 tahun itu bukannya tidak punya koleksi earphone nirkabel, tapi dia mengaku prefer memakai perangkat audio yang dihubungkan langsung ke ponsel dengan kabel.

’’Kalau pakai earphone bluetooth gampang panas di kuping, kalau yang kabel aman saja,’’ tutur warga Jalan Jayanegara, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, itu. Menurutnya, produk wireless yang mengandalkan teknologi bluethooth memiliki efek tak nyaman di telinga. Sensasi hangat itu biasanya muncul setelah 30 menit sampai 1 jam. Fitri menyebut, kondisi ini tidak hanya dirasakannya sendiri. ’’Teman-temanku yang pakai bluetooth juga bilang gitu,’’ imbuhnya.

Menurutnya, efek itu muncul akibat setiap sisi eraphone bluetooth memiliki baterai yang bekerja saat dipakai. Selain itu, dari literatur yang ia baca, perangkat pendengaran wireless memancarkan radiasi lebih tinggi dibanding tipe kabel. ’’Makanya selain panas, kadang ada efek pusing juga,’’ ucapnya.

Fitri mengakui eraphone wireless telah menghadirkan inovasi. Sebab, penggunanya tidak perlu lagi berurusan dengan kabel fisik yang menjuntai dan kerap merepotkan saat disimpan. Model nirkabel juga cocok untuk aktivitas di luar ruangan seperti olahraga berlari karena lebih praktis.

Namun demikian, ketergantungan eraphone wireless pada baterai juga menimbulkan kerepotan tersendiri. Selain tak boleh lupa mengisi daya, beberapa tipe juga gampang nge-drop, bahkan ada produk yang baru mau menyala kalau dicas. Masalah yang lebih urgen dari eraphone wireless, lanjutnya, muncul ketika sedang bertelepon. ’’Suaranya tidak jelas, karena speaker dan mikrofon jadi satu di telinga, kalau kabel kan mikrofonnya bisa didekatkan ke mulut,’’ terang mahasiswi itu.

Pengalaman senada diungkapkan Angga. Pemuda 23 tahun asal Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, itu mengaku lebih memilih pakai earphone dan headset kabel dibanding bluetooth. Tak sekadar ikut-ikutan tren, karyawan swasta ini mengaku lebih intens pakai alat pendengaran berkabel karena suara yang didengar tak berjeda. ’’Kalau wireless sering delay,’’ sebutnya.

Menurut Angga, alat pendengar nirkabel populer semenjak masa Covid-19. Tak lama, sekitar 2 sampai 3 tahun setelahnya, banyak yang kembali menggunakan earphone dan headset kabel. Dan, belakangan, hal ini jadi tren di kalangan anak muda. Angga pun mengaku sebenarnya tak berniat membeli tipe wireless. Tapi, karena ponselnya tak dilengkapi colokan kabel khusus earphone, ’’Jadinya mau tidak mau beli yang bluetooth itu,’’ tandasnya. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
tren lifestyle earphone TWS tren earphone kabel