BUSANA kebaya kini tidak hanya dikenakan saat acara kondangan atau acara formal saja. Di masa kini, busana tradisional Indonesia ini ternyata telah menjadi fashion item kekinian yang stylish, santai, dan berkarakter. Bahkan, telah banyak tren kebaya modern membanjiri media sosial. Anak-anak muda atau kaum Gen Z tak lagi ragu mempertontonkan kebaya sebagai daily outfit-nya.
Tak jarang mereka juga berani memadupadankan kebaya dengan corak atau warna yang bertabrakan. Hasilnya, bukan cuma estetik yang ditampilkan, tapi juga sarat identitas dan nilai budaya.
’’Ya, biasanya dipakai ke gereja atau acara keluarga. Seru juga pergi hangout pakai kebaya. Mostly kebaya sekarang lebih modern dengan variasi cutting-an serta kombinasi dengan asesoris lainnya,’’ ungkap Cyntia Handy, warga Kelurahan Wates, Kota Mojokerto.
Yuk Kota Mojokerto 2015 ini menilai, kebaya justru kian memperjelas identitas serta karakternya sebagai perempuan Indonesia. Bahkan, kebaya buatnya busana paling nyaman. Dipadupadankan dengan celana ataupun rok lebar, juga kian cocok dan pantas. Termasuk saat dikenakan di acara nonformal pun, kebaya kian memancarkan pesonanya. ’’Dipakai hangout ke cafe juga no problem. Toh, Gen Z saat ini suka gaya yang klasik dan kontemporer,’’ tambahnya.
Untuk jenis kebaya, wanita 28 tahun ini lebih sreg memakai gaya kutubaru yang Memiliki kain penghubung (bef) di bagian tengah. Agar lebih modern, biasanya memakai bahan brokat, divariasi dengan payet mewah, atau potongan lengan layaknya balon. Kebaya jenis ini kerap ia kenakan di acara formal seperti kondangan atau menghadiri rapat atau undangan sesama pegiat museum nasional.
Sedangkan untuk acara semi formal, ia biasa memilih gaya Encim dengan detail bordir bunga khas akulturasi Tionghoa-Betawi. Agar lebih mewah, ia kerap memesan dengan potongan oversized, bahan katun ringan dan warna-warna pastel kekinian.
Pengusaha toko ATK ini juga kerap hunting kebaya dengan berbagai corak dan detail bahan. Setiap keluar kota, tak jarang ia mencari kebaya khas, seperti gaya Soloan, Jogjaan, atau Sunda. ’’Biasanya pilih yang handmade dan mengutamakan hasil UMKM. Pilihan warnanya juga yang soft namun saling bertabrakan,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto