Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tari Khas Mojokerto Sarat Filosofi Majapahit

Farisma Romawan • Minggu, 12 Juli 2026 | 05:06 WIB
SANG PENAMPIL: Para penari Bedhaya Majapahit Puji Sesanti memasuki panggung Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Kota Mojokerto, Selasa (7/7). (Sofan JPRM)
SANG PENAMPIL: Para penari Bedhaya Majapahit Puji Sesanti memasuki panggung Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Kota Mojokerto, Selasa (7/7). (Sofan JPRM)

Mengenalkan dan melestarikan kesenian tari khas Mojokerto kepada Gen Z tidak sekadar melenggak-lenggokkan tubuh dan membunyikan alunan gamelan. Keberadaan literasi ang sarat akan makna filosofi dan mitologi yang melatarbelakangi juga perlu ditampakkan agar kesenian tari terus sakral dan abadi. Terutama tari bedhaya yang telah menjadi ikon tari klasik dan selalu ditampilkan saat pembukaan acara atau penyambutan orang penting. 

Bahkan, Bedhaya kerap disangkutpautkan dengan cerita pada masa kejayaan Majapahit. Seperti Tari Bedhaya Majapahit Puji Sesanti hasil kreasi dan gubahan Supriyadi, pemilik Sanggar Bhagaskara, Bejijong Trowulan. Saat ditampilkan di Radar Mojokerto Award 2026, Selasa (7/7) di Ballroom Sunrise Hotel, tari ini dibawakan oleh penari perempuan berjumlah ganjil. ’’Pakemnya tari Bedhaya memang berjumlah ganjil dan harus dibawakan oleh perempuan,’’ ungkap pegiat seni dan budaya Majapahitan ini.

Supri-sapaan akrabnya-mengaku, tari ini diciptakan pada 2013, dikreasikan sesuai cerita upacara Srada, yakni ritual pemujaan arwah leluhur di era Majapahit. Saat itu, Majapahit mengalami gonjang-ganjing sosial politik, dan upacara Srada hadir sebagai penawar marabahaya. Dari cerita itu, Supriyadi ingin menyampaikan pesan moral lewat tariannya, yakni sebagai tolak bala dan berharap Indonesia tetap solid seperti semboyannya, Bhinneka Tunggal Ika Tanhanadharma Mangrwa.

MAKSIMAL: Penari Tari Bedhaya Majapahit Puji Sesanti saat tampil di seremoni Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Kota Mojokerto, Selasa (7/7). (Anggi Fridianto/JPRJ)
MAKSIMAL: Penari Tari Bedhaya Majapahit Puji Sesanti saat tampil di seremoni Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Kota Mojokerto, Selasa (7/7). (Anggi Fridianto/JPRJ)

Tidak hanya gerakan, Supri juga mengombinasikannya dengan alunan gamelan yang di mixing oleh penyanyi Kiai Kanjeng, almarhum Zainul Arifin. Dari situ, keran sakral tersaji sesuai dengan cerita aslinya. ’’Ya, sebaiknya setiap tarian memang kaya akan literasi, tata bahasa dan filosofi yang valid dengan sejarah aslinya. Sehingga tidak asal menciptakan gerakan, tapi juga mengandung makna dan nilai luhur,’’ tambahnya.

Untuk melestarikannya, Supri berharap kepada pemerintah ikut berkontribusi dalam membumikan tari tradisi. Tidak sekadar ditampilkan di acara-acara penting, tapi juga dikenalkan secara masif kepada generasi muda. Khususnya pelajar mulai tingkat TK hingga SMA agar mereka bisa mengenal lebih jauh akan kesenian dan kebudayaan leluhurnya.

Supri juga berharap tari-tarian khas Majapahit bisa difestivalkan dan dikampanyekan. Sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan baik dalam maupun luar negeri. ’’Jika memang perlu, tari Bedhaya dibuatkan festival di area wisata dan diikuti seluruh sanggar se-Mojokerto. Dari situ, bisa dipromosikan sebagai ajang menarik wisatawan,’’ dorong pria berambut gondrong ini. (far/fen)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#jawa pos radar mojokerto award 2026 #tari khas mojokerto #tari bedhaya majapahit puji sesanti #tari mayang rontek #tari majapahit