BUSANA dari daur ulang kertas koran dinilai memiliki keunikan tersendiri lantaran tekstur dan tampilan visualnya yang khas. Tak hanya melatih daya kreativitas dan imajinasi, penggunaan barang bekas juga menumbuhkan kepedulian anak kepada lingkungan sejak dini.
Pandangan ini disampaikan Indar Parikesit, salah satu juri lomba fashion show daur ulang Gebyar PAUD Ceria 2026 jenjang TK dan RA di Pendapa Graha Majatama Pemkab Mojokerto, Kamis (4/6) lalu. Pengusaha batik asal Desa Tambakagung, Kecamatan Puri itu mengatakan, busana yang ditampilkan puluhan peserta dalam ajang tersebut sangat beragam dan menunjukkan kreativitas yang luar biasa.
Meskipun menggunakan bahan dasar daur ulang, menurutnya setiap peserta mampu menghadirkan ide yang berbeda, mulai dari pemilihan tema, model pakaian, kombinasi warna, hingga aksesori yang digunakan.
’’Ada yang terinspirasi dari tokoh kartun, alam, profesi, hingga busana tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua dan anak mampu berpikir kreatif serta memanfaatkan barang bekas menjadi karya yang menarik dan bernilai estetis,’’ tuturnya, kemarin (13/6).
Menurut pemilik butik Mydebz itu, busana dari daur ulang kertas koran memiliki keunikan tersendiri. Motif tulisan dan gambar pada koran menciptakan tekstur serta tampilan visual yang khas dan tidak dapat ditemukan pada bahan lain. Selain itu, Indar melanjutkan, kertas koran sangat mudah dibentuk, dilipat, dianyam, atau dipadukan dengan berbagai material sehingga membuka ruang eksplorasi desain yang luas.
’’Di sisi lain, penggunaan koran bekas juga menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan, karena mengajarkan bahwa barang yang dianggap tidak terpakai masih dapat diolah menjadi karya yang indah dan bernilai,’’ jelasnya.
Indar mengungkapkan, kreasi busana dari bahan daur ulang dapat banyak manfaat bagi anak usia dini. Pertama, mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak melalui proses menuangkan ide menjadi karya. Kedua, melatih rasa percaya diri dan keberanian saat tampil di depan umum.
Ketiga, meningkatkan kemampuan motorik halus ketika anak ikut membantu membuat atau menghias busana. Keempat, menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan dengan mengenalkan konsep mengurangi sampah dan memanfaatkan kembali barang bekas sejak dini. ’’Yang tidak kalah penting, kegiatan ini juga mempererat kerja sama antara anak dan orang tua dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah